Berdiakonia

Puji Syukur akhirnya bisa juga rapat di puncak dalam rangka persiapan bulan diakonia tahun 2016 ditambah dengan pembekalan berdiakonia yang disampaikan oleh Pdt Yoga W Pratama dengan judul
“Panggilan keadian dan kemurahan hati”
Diakonia secara harfiah adalah memberi pertolongan atau pelayanan.
Kata ini berasal dari Yunani yang berarti pelayanan, diakonen (melayani) dan dakonos (pelayan).
Dalam konteks Yunani-romawi, melayanai sebagai pekerjaan yang rendah yang tidak mau dilakukan, sedang dalam PB diartikan dengan “melayani meja”. Focus dari PL melayani adalah dari segi status misalnya janda, yatim piatu, sedang dalam konteks PB adalah pada kondisi sebenarnya, yang artinya bahwa status janda belum tentu membutuhkan pelayanan karena ia mampu.
Dari dasar alkitabiah bahwa diakonia itu adalah pelayan bagi mereka yang lemah, sengsara dan korban dari ketidak adilan.
Pada gereja Perdana bahwa pemeliharaan orang miskin adalah sangat dihargai karena mempunyai prinsip “apa yang aku terima adalah hak bagi orang lain juga”, sementara dalam Yunani-Romawi tidak mengenal dengan pemeliharaan orang miskin, karena mereka hanya cukup melakukan kewajiban yang diembankan/diberikan mis. Prajurit berperang.
Pada abad ke-3 Kaisar Konstatinus Agung sejak menjadi orng Kristen maka gereja sebagai gereja negara sehingga Kristen pada saat itu menjadi diperhatikan dan bertumbuh sejalan dengan aktivitas negara.
Yohannes Calvin, salah satu tokoh reformator berpegangn pada Roma 12:8 “Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang iklas, siapa yang memberi pimpinan hendaklah ia melakukannya dengan rajim siapa yang menunjukkan kemurahan hendaklah ia melakukannya dengan sukacita“.
Pada abad ke 20, diakonia telah turun menjadi lembaga sedekah, dan pelayanan diakonal mulai bersaing dengan lembaga asuransi dan pelayanan publik yang dirancang dan dilakukan oleh pemerintah.
Dari segi Teologi Alkitabiah dan sketsa sejarah diakonia, bahwa saling mempedulikan adalah ciri khas Jemaat Kristen. Spirit dari diakonia adalah panggilan untuk menyatakan keadilan dan kemurahan hati seperti Allah telah melakukan bagi kita.
Adapun rintangan untuk berdiakonia adalah :
  •          Defaitisme, rasa menyerah karena besarnya penderitaan. 
  •   Penekanan berlebihan pada jabatan gerejawi khusus, hanya dipikul oleh orang-orang yang diteguhkan.
  •       Individualisme zaman, memgang prinsip “apa yang kuterima, sebesar-besarnya dimanfaatkan untuk diri sendiri”
  •           Perhatian untuk orang yang mengalami penderitaan terasa sebagai ancaman.
  •           Prasangka terhadsap orang asing, pencari suaka, pelaku kriminal dan orang yang terstigmatisasi buruk dalam masyarakat.
  •  

Paradigma Diakonia yang benar adalah

  •       Kegiatan utama gereja yang menunjukkan jatidiri gereja yang sejajar dengan koionia (bersekutu) dan marturia (bersaksi).
  •           Bukanlah berwacana tapi bertindak nyata.
  •           Harus menumbuka kesadaran dan kesiapan untuk terlibat dalam diakonia.
  •           Bukan membuat orang tergantung pada diakonia tapi memandirikan dengan transformative yang menguatkan dan mengubah kehidupan agar gilirannya juga bisa menguatkan dan mengubahkan orang lain.

Bidang pelayanan diakonia :
  •    Orang muda yang mengalami krisis, karena pendidikan, pengangguran dan sarat akan permasalahan.
  •           Berkebutuhan khusus baik cacat fisik maupun keterbelakangan mental.
  •           Lansia yang memunyai keterbatasan dalam gerak atau hidup.
  •           Orang sakit dalam perkunjungan secara berkesinambungan.
  •           Bantuan pendidikan yang berprestasi dan memang membutuhkan karena kekurangan.
  •           Bagi orang yang tinggal sendiri atau yang tidak lengkap yakni janda, duda, yatim piatu.
  •           Mendampingi keluarga dalam memelihara iman, keharmonisan dan penguatan berbagai aspek kehidupan.
  •           Kaum marginal dan korban bencana alam.

Demikianlah sedikit tulisan tentang Diakonia untuk memotivasi menjadi sebuah panggilan dan kemurahan hati.
Jika kita tidak bisa membuat hal yang besar, kerjakanlah hal-hal yang kecil tetapi dengan cinta yang besar” (Ibu Theresa)
Disadur dari dari pembekalan Diakonia dari Pdt. Yoga W Pratama (Pdt GKP Bekasi) bersumber pada Dr. A. Noordegraaf, Orientasi Diakonia Gereja (terj) (BPK Gunung Mulia, 2004)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s