Batak adalah suku dari Indonesia yang berada di ujung pulau sumatera bagian utara bersebelahan dengan Aceh.
baju adata batak
Baju adat suku  Batak
Batak itu sendiri terdiri dari 6 sub suku dan berada di beberapa wilayah berikut:
1. Toba — wilayah Kabupaten Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Samosir, Toba Samosir (Asahan, Silindung, Barus, Sibolga, Pegunungan pahae dan Habinsaran)
2. Simalungun — wilayah Kabupaten simalungun
3. Karo — kabupaten Karo (daratan tinggi karo, langkat Hulu, Deli Hulu, Serdang Hulu dan sebagian Dairi)
4. Pakpak — wilayah Kabupaten dairi dan kabupaten pakpak barat
5. Mandailing — wilayah Kabupaten mandailing Natal (Ulu, pakatan dan sebagaian padang lawas) dan
6. Angkola — wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan dan Padang Lawas (sebagian sibolga, batang toru dan padang lawas)
Menurut legenda
dari kayangan ada borudeakparujar dan Tuan Rumagorga
dengan keturunan Raja Ihot Manasia dan Boru Uhat manisia
3 keturunan Raja Miok-miok, Patundai Na Begu dan Siaji Lapas-lapas
Raja Miok-miok keturunanya Eng Banua yang mempunyai anak
Bonang-bonang, Si Raja Atsah dan Siraja Jau
Bonang-boang memperanakkan Si Raja Batak yang melahirkan
Guru Tatea Bulan dan Raja Isumbaon
Dari Raja Isumbaon marga-marga mulai berkembang.
Nenek moyang orang batak dari utara mulanya datang ke Sumatera dan mendarat di Teluk Haru (Pasai) Aceh, tanah gayo. dan Alas (Aceh Tenggara). setelah itu ke selatan yaitu pusuk buhit dan menetap disana.
Suku  batak menganut patrilineal, dengan mengetahui marga seseorang, maka setiap orang batak otomatis lebih mudah untuk mengetahui hubungan sosial di antara mereka yaitu dengan mengingat marga ibu, nenek, istri atau istri kaka maupun adiknya.
Marga menentukan kedudukan sosialnya dan kedudukan orang lain dalam jaringan hubungan sosial adat maupun kehidupan sehari-hari.
Sistem interaksi pada masyarakat batak adalah dalihan natolu (tungku nan tiga) yang terdiri atas
– Dongan tubu (pihak semarga)
– Boru (pihak penerima istri) dan
– Hula-hula (pihak pemberi istri)
dalihan natolu
Dalihan natolu
Dalam interaksinya, tiap orang akan berperilaku yang berbeda pada masing2 pihak itu. Orang akan manat mardongan tubu (hati-hati pada teman semarga), elek marboru (membujuk pada pihak penerima istri), dan somba marhula-hula (hormat pada pihak pemberi istri).
Jelas bahwa nilai interaksional ini, hanya bisa dipahami bahkan dijelaskan setelah memiliki dan memahami nilai identitas.
Visi Orang Batak adalah :
– Hamoraon (kekayaan atau kesejahteraan)
– Hagabeon (Mempunyai keturunan anak laki-laki) dan
– Hasangapon (kehormatan)
Untuk mencapai hagabeon, orang harus menikah dan mencapai hamoraon, orang harus mandiri dan berpendidikan sehingga bisa mencapai hasangapon.
Agama suku batak mula-mula adalah parmalim. Agama yang dianut sebelum masuknya agama Kristen dan agama lain. Mereka menyembah Debata Jadi Na Bolon (Tuhan Yang Maha Esa) dengan upacara agama.
Sejarah masuknya agama kristen di Tanah Batak dapat dibedakan atas beberapa tahap yaitu 1881-1901 —> peletakan dasar-dasar pertaman di lembah Silindung disebelah selatan Danau Toba oleh I.L. Nommensen dan P.H. Johannsen dengan sangat di dukung oleh Raja Pontas Lumbantobing, disusul dengan penerjemahan kitab dasar untuk jemaat yakni Perjanjian Baru tahun 1878 dan Katekismus Kecil tahun 1874.
Orang batak mengenal sistem gotong royong kuno dalam hal bercocok tanam seperti bertani, menanam coklat, jagung dan kelapa sawit dengan menggunakan cangkul, bajak, ungkat tunggal, sabit atau ani-ani.
Upacara ada kematian, diklassifikasikan berdasarkan usia dan status orang yang meninggal dunia.
Untuk yang meninggal ketika masih dalam kandungan (mate di bortian) belum mendapatkan perlakukan adat dan langsung di kubur tanpa peti mati
Bila mati ketika masih bayi (mate poso-poso), mati saat anak-anak (mate dakdanak), mati saat remaja (mate bulung), dan mati saat sudah dewasa tapi belum menikah (mate ponggol), mayatnya ditutupi ulos selembar.
Upacara adat kematian semakian sarat mendapat pelakuan adat apabila orang yang mati.
1. Telah berumah tangga namun belum mempunyai keturunan (mate di paralang-alangan)
2. Telah berumah tangga dengan meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil (mate mangkar)
3. Telah memiliki anak-anak yang sudah dewasa bahkan sudah ada yang menikah namun belum bercucu (mate hatungganeon)
4. Telah memiliki cucu, namun masih ada anaknya yang belum menikan (mate sari matua) dan
5. Telah bercucu dari semua anak-anaknya (mate saur matua)… Tingkat tertinggi dari klassifikasi masyarakat Batak. khususnya Batak toba.
Dalam kondisi mate saur matua inilah, masyarakat batak mengadakan pesta untuk orag yang meninggal dunia sebagai tanda selesainya tugasnya di dunia ini.
Demikian sedikit oret-oretan saya, apa itu Batak dan bagaiamana, sebagai perbendaharaan dan pengetahuan bagi keturunan orang batak khususnya.
Mohon masukannya jika ada yang kurang untuk penambahan perbendaharaan.
Saya sendri Gultom Hutatoruan No.15
Tulisan ini saduran dari video yang dikirim oleh group Gultom Hutatoruan
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s