Apakah aku sudah siap melayani?

pdt_wahyu
Exis bersama pdt Wahyu setelah pelayanan

Setelah melewati 2 kali pemilihan calon majelis di GKP Jemaat Bekasi, maka yang ketiga kali ini menjadi bakal calon bisa masuk calon majelis dan terpilih menjadi majelis periode 2017 ~ 2021 (4 tahun sekali), artinya sejak tahun 2009 sudah masuk dalam balon dan calon, tapi belum bisa masuk Majelis.

Walaupun dilihat kondisi sekarang ini adalah karena adanya penambahan quota, sebelumnya 2 majelis dari wilayah 1, sekarang menjadi 3, dan saya urutan ke-tiga…..

Semenjak masuk dalam percaturan pencalonan majelis, maka saya sudah aktif di komisi Diakonia mulai dari seksi pendidian dan ketua, terima kasih kepada komisi diakonia yang sudah ikut serta ambil bagian, dan dengan terpilihnya menjadi majelis, berarti harus saya harus mundur menjadi ketua yang masa aktifnya sampai tahun 2018.

Secara pribadi saya belum siap untuk menjadi majelis, melihat majelis yang begitu berkorban soal waktu dan materi. Sementara saya sendiri, banyak aktifitas diluar dari kerohanian, sebutlah badminton, golf dan perkumpulan hampir setiap minggu, karena sudah tradisi.

Itulah kenapa saya membuat judul “apakah aku sudah siap melayani”?

Beliau memang sangat bagus dalam memberikan pembinaan, walaupun waktu 4 jam mulai pukul 2 siang, kita bisa focus sepanjang pembinaan, karena beliau bisa memberikan makalah dengan baik.

Sesi pertama adalah bagaimana menentukan gaya kita dalam lembaga atau pelayanan yang dibagi menjadi 4 yaitu : Akomododatif, Berpikir, cepat dan Duet.

Dari gaya ke-4 itu adalah fleksible, pemikir, cepat beraksi dan bekerja dengan baik.

Tentu dari ke-4 gaya ini, mempunyai kelebihan dan kekurangan yang tujuannya adalah untuk saling mengisi sehingga bisa berjalan dengan baik lembaga atau organisasi pelayanan.

Dalam hal ini kita mengerti bagaimana dominannya seseorang dalam organisai melalui  ke-4 gaya ini.

Tema selanjutnya adalah konflik dalam lembaga yang harus di kelola, karena konflik itu pasti ada disetiap kegiatan organisasi.

Jika konflik dari awal tidak dikelola maka akan berakibat sebagai berikut :

  1. Menimbulkan perubahan dalam ketegangan dan kebingungan shigga
  2. Menyalahkan orang lain dan akan
  3. Membuatan daftar kesalahan yang akan meningkatkan konflik yang
  4. Menimbulkan konfrontasi dan akhirnya
  5. Membut sikap yang tidak bersahabat.

Sumber konflik ada beberapa hal seperti :

  1. Informasi, dimana sipenerima tidak mendapatkan dengan proporsi yang sama yag menimbulkan kesalahan dalam penafsiran atau persepsi.
  2. Adanya kepentingan karena kebutuhan, keinginan, hasrat, harapan atau ketakutan tertentu.
  3. Hubungan yang tidak harmonis karena adanya stereotype atau mencap sehingga menimbulkan gambaran mental yang membentuk pola pikir pada orang lain.
  4. Bisa juga karena sumber daya seperti uang, bangunan dan manusia.
  5. Strukture dengan job desc yang tidak jelas yang menimbulkan wewenang yang tidak jelas dan
  6. Terakhir adalah karena nilai-nilai budaya atau latar belakang yang ingin di samakan.

Jika sudah terjadi konflik, maka 3 hal yang akan dipikirkan yaitu siapa biang keladinya baru kemudian apa masalahnya dan jarang orang berpikir kalau system sebenarnya juga punya andil dalam konflik.

Jika kita berpikir bahwa terjadinya konflik karena keterbatasan system, maka akan ada perbaikan yang lebih baik, sehingga bisa diklassifikasi kesalahan untuk diperbaiki.

Dengan adanya konflik sebenarnya akan mewarnai komunikasi, sehingga harus diwaspadai dan dilihat secara system apakah sudah baik.

Dan pada intinya konflik adalah kualitas hubungan dalam lembaga, jika hubungan baik akan memperkecil konflik, tapi kalau tidak baik jelas akan memperbesar konflik.

Demikian pembinaan yang disampaikan oleh pdt Wahyu yang ditutup pukul 6 sore.

Berikut adalah materi dari pak Pdt Wahyu.

Gambarn Mental : kawan atau lawan

Beberapa pokok refleksi tentang konflik dan pelayanan di gereja.

Lebih dari 10 tahun yang lalu, saya dan beberapa teman di fakultass sedang berbincang2 di ruang minum kopi pada jam makan siang. Kemudian ada seorang kolega datang bergabung dan berkata ”ah..badan saya koq lemas dan lesu sejak kemarin”. Kemudian 2-3 orang teman dengan serempak berkata “minum vitamin saja..”. Itulah yang disebut dengan ‘gambaran mental’. ‘Gambaan mental’ adalah sekelompok asumsi, gambaran atau cerita sebagai data2 yang berproses dalam diri seseorang dan dipakai untuk menginterpretasikan berbagai hal di sekitar kita, bahkan menjadi pengaruh tindakan kita (Jim Herington dkk, 2000,113). Gambaran mental biasa juga disebut (walau sedikit berbeda) sebagai “paradigma”. Dalam kasus cerita di atas beberapa teman yang mengusulkan minum vitamin punya seperangkat gambaran mental yang sama, yang mengarahkan ada tindakan untuk membeli vitamin, tanpa perlu pemeriksaan ke dokter. Belakangan diketahui bahwa kolega saya mengidap myasthenia gravis, yang menyebabkan otot2 badannya melemah. Dari mana teman2 saya punya pemahaman bahwa kalau badan lemas dan lesu harus minum vitamin?. Data2 yang bertebaran di sekitar mereka membentuk hal itu, bisa dalam bentuk cerita orang lain, pengalaman hidup mereka atau iklan di telivisi.

Semua orang mempunyai gambaran tertentu dalam dirinya. Setiap hari begitu banyak data masuk ke dalam diri kita, diolah oleh gambaran mental yang ada atau bahkan data2 itu menghasilkan gambaran mental yang baru. Itu bagian dari kemampuan yang dianugerahkan Tuhan kepada kita.

Gambaran mental

Gambaran mental mempunyai kekuatan yang dahsya dalam kehidupan seseorang, bahkan bisa dikatakan bahwa ‘sistem operasi’ manusia berangkat dari gambaran mental yang ada di dalam dirinya terhadap segala sesuatu. Gambaran mental bisa menggerakkan orang atau dengan sengaja dipakai menggerakkan orang untuk mencapai tujuan tertentu. Ambillah contoh kehidupan Yesus, ketika Yesus tampil berkarya, data2 yang masuk ke dalam diri orang Yahudi tentang Perjanjian Lama, harapan mereka akan datangnya Mesias dan kemudian data tentang apa yang dilakukan Yesus membentuk sebuah gambaran mental bahwa Yesus adalah Mesias.

Ada beberapa aspek dari gambaran mental sebagai berikut:

  1. Model-gambaran mental merupakan gambar, asumsi, cerita yang dimiliki oleh setiap orang untuk menginterprestasikan dunia-lingkungan, untuk membangun abstrak secara cepat dan mengarahkan tindakan kita. Gambaran mental merupakan perangkat ‘ajaib’ yang dengan cepat mengkotak2an data yang masuk, dan kemudian keputusan segera bisa diambil. Secara sederhana gambaran mental dapat berupa ‘generalisasi’, misalnya: orang Batak itu keras sifatnya,sementara orang Jawa itu halus. Gambaran mental menjadi kacamata dan menentukan apa yang kita lihat.
  2. Model-Gambaran mental dapat dimiliki bersama dalam sebuah kelompok atau masing2 kelompok. Gambaran mental yang dimiliki kelompok bisa disengaja (seperti sebuah perusahaan yang menginginkan karyawannya mempunyai gambaran mental tertentu demi tujuan perusahaan itu) tapi bisa juga menjadi bagian dari komunitas khas seperti etnis.
  3. Model-gambaran mental sama dengan paradigma yang menggerakkan hasrat. Gambaran mental menggerakkan seseorang untuk mengambil tindakan atas sebuah situasi terntentu. Hal itu bisa terjadi pada beragam hal, bisa yang sederhana sehari2 seperti makanan sampai yang penting seperti memilih jodoh.
  4. Model-gambaran mental mempengaruhi relasi & organisasi seperti konsepsi identitas dan iklim. Dalam sebuah orgaisasi, gambaran mental ‘berseliweran’, baik yang sengaja ditanamkan dalam organisasi itu atau yang diproses secara mandiri. Semua akan mempengaruhi iklim organisasi sekaligus identitas organisai itu.

Konflik dan gambaran mental.

Banyak konflik terjadi dan banyak program atau tujuan tidak bisa berjalan dengan baik karena ‘beroperasinya’ gambaran mental terntentu yang saling menghalangi dan menghambat. Konflik gambaran mental yang terjadi secara internal dalam diri seseorang atau organisasi. Komplik gambaran mental yang terjadi secara internal dalam diri seseorang atau organisasi, sering tidak disadari. Yang terasa muncul  adalah ucapan kata tidak diperdulikan orang atau program kita tidak jalan atau kritikan terus menerus yang muncul.

Sedemikian pentingnya gambaran mental, maka perlu bagi kita untuk menyadari gambaran mental yang sedang ‘bermain’ dan beroperasi dalam diri. Ada 2 hal penting dalam kaitan dengan hal itu yaitu.

  1. Mengenal dan memeriksa dengan kritis sampai sejauh mana gambaran mental dalam keputusan dan tindakan suatu organisasi atau institusi itu relevan dan akurat. Harus diakui bahwa tidak semua gambaran mental akan tetap akurat. Bisa jadi oleh karena data yang sudah berubah atau berkembang jaman yang sudah bergeser, gambaran mental yang kita miliki sebenarnya sudah tidak mencukupi lagi. Untuk itu penting untuk memeriksa secara kritis.

Contoh :

  • Gereja tidak akan berjalan jika tidak ada bapak A dan bapak B lagi memiliki sumber dana yang besar sehingga setiap keputusan harus ‘meminta ijin’ bapak A dan B?
  • Lembaga akan bejalan lambat kalau melibatkan bapak A dan ibu B, mereka terlalu teliti dan detail sebelum mengambil keputusan, jadi lambat sekali. Lebih baik mereka tidak usah dilibatkan.
  • Anak muda maunya gampang, ngga mau susah2
  1. Mengeksplorasi mental models yang baru melalui komitmen dan visi yang jelas (di lembaga gereja, badan, istitusi kelembagaan, rumah sakit, komunitas visi, jemaat). Gambaran mental bisa dengan sengaja dan sistematis dieksplorasikan, ditumbuhkan dan menjadi gambaran mental bersama. Untuk melakukan itu perlu diperhatikan hal2 yang sudah ada terlebih dahulu sebagai ‘budaya institusioal’ lembaga tersebut. Misalnya tentang nilai2 yang selama ini menjadi bagian penting sehingga gambaran mental yang baru tidak bertabrakan dengan nilai2 yang ada.

Kawan Sekerja Allah : Sebuah gambaran mental.

Kita bekerja tidak sendiri. Ada orang2 yang bekerja bersama dengan kita. Orang2 yang bekerja sama dengan kita di dalam pelayanan gereja (termasuk di dalamnya lembaga2 pelayanan gereja), siapakah mereka? Apakah mereka musuh? Atau saingan? Atau partner dan kawan. Pilihan kita untuk menjawab pertanyaan ini, biasanya ditentukan oleh beragam data yang masuk, termasuk pengalaman2 yang ada dan membentuk gambaran mental terntentu. Lihatlah pengalaman pelayanan kita dan rasakan betapa gambaran mental itu berbicara  dengan kuat dalam proses perjalanan pelayanan kita. Terkadang gambaran mental itu berguna agar relasi berjalan dan bekerja dengan lebih baik, namun pada banyak kasus juga gambaran mental terntentu yang ada dalam diri kita justru menjadi masalah dan menyebakan banyak pesoalan menjadi lebih sukar.

Rasul Paulus mengatakan dengan jelas bahwa ia adalah ‘kawan sekerja Allah’, sementara jemaat adalah ladang Allah, bangunan Allah (1Korintus 3:9). Inilah salah satu gambaran mental yang bekerja dalam diri Pulus. Gambaran mental sebagai kawan sekerja Allah tentu berdasarkan data2 pengalaman Paulus sendiri. Dengan gmbaran mental seperti itulah Paulus melakukan perjalanan jauh lebih banyak dibandingkan dengan rasul2 lainnya. Dengan gambaran mental seperti itu paling tidak Paulus akan meneguhkan beberapa hal:

  1. Yang punya pekerjaan adalah Allah atau Allah-lah yang menjadi pemilik dari pekerjaan itu atau sumber pekerjaan itu adalah Allah sendiri. Karena pemilik pekerjaan adalah Allah sendiri, maka apa yang dilakukan Paulus menjadi bagian dari pekerjaan Allah. Dengan ini, setiap data pengalaman yang dihadapi Paulus akan diolah melaui hal ini.
  2. Paulus melihat Allah tidak menempatkan dia sebagai ‘hamba’, ‘budak’ atau pembantu namun sebgai ’kawan’. Sebab ’kawan’ bukan brarti Paulus ngelunjak, berani2 menyebut Allah sebagai kawan. Namun justru data2 pengalaman hidup Paulus sendiri menunjukkan hal itu, Allah-lah yang menyebabkan ia berada sebagai ‘kawan’.

Penutup

Selidikilah gambaran mental apa yan bekerja di dalan diri kita, terhadap pekerjaan2 orang2 yang bekerja melayani bersama kita dan tentu saja terhadap keberadaan diri sendiri. Dalam hubungan dengan kepemimpinan, seorang pemimpin harus mengetahui gambaran mental yang bekerja di seluruh proses institusinya, jika tidak, maka konflik demi konflik tidak akan bisa diselesaikan dengan baik.

Jogjakarta, 14 Maret 2017

Pdt. Wahyu S Wibowo Ph.D

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s