Pembinaan Majelis

photo bersama.jpg

Ini adalah pembinaan yang ke-tiga untuk pembekalan bagi majelis terutama dalam pelayanan.
Dengan 2 sesi pembinaan sesi pertama dengan tema Kode Etik Pelayanan Gereja dan ke dua Kedudukan dan Fungsi Tata Gereja di Gereja Kristen Pasundan. Nara sumber BapakPdt. Ferly David (Sekretaris Umum Sinode GKP di Bandung. Sesi ke satu mulai pukul 11 pagi kemudian break pukul 12 sampai pukul 1 siang. Mulai pukul 1 siang sesi ke dua dan berahir dengan tanya jawab pukul 3 sore. Terima kasih kepada Team Pemerhati yang telah mengadakan pembinaan ini hari Sabtu 16 Sept 2017 dengan kehadiran 39 majelis dari 54 majelis. Dan tak lupa terima kasih kepada pak Pdt Ferdy David yang telah memberikan waktu dan pembinaannya sehingga bekal buat kami majelis GKP Bekasi ini.

photo bersama.jpg

Adapun Materi Kode Etik adalah berikut;

Pendahuluan:
Kode etik yaitu umusan pedoman perilaku yang menunjukkan hal-hal yang mana harus dilakukan dan tidak. Pelayan gereja memang bukan profesi,tapi dituntut dengan standat moral dan etis yang tinggi (Mat 5:48 dan 1Tim 3:7).
Degan adanya kode etik ini memberi pelayanan yang prima agi warganya dan bagi masyarakat sekitarnya.

photo bersama.jpg

  • Memiliki iman yang dewasa.
    Pelayan gereja bukan pemimpi organisasi tapi pemimpin gereja,ktladanan dalam ha rohani dan spirittual sangat dibutuhkan dan ini wibawa kepimpinan seorang pelayan gereja.
  • Memiliki wawasan yang cukup.
    Pelayana di dilakukan memiliki wawasan cukup dengan memahami jemaat tempat ia melayani dan GKP secara umum termasuks berbagai aturan yang ada seperti Tata Gereja dan Berbagai keputusan Sidang Sinode.
    Harus megnerti tentang kehidupan bersama gereja-gereja di aas lokal maupun diaras lebih luas.
  • Memiliki kecapakan dan Kemampuan yang memadai.
    Pelayan gereja perlu memperlengkap diri dengan berbagai keramila yang dibutuhkan.
    Misalnya : pemimpn kebaktian, percakapan penggembalaan, melaksanakan perkunjungan, memanagekegiatan gereja ,mengelola keuangan jemaat dan seterusnya.
  • Mempunyai tanggungjawab dan inetegritas pribadi.
    Pelayan ereja dituntut memperlihatkan tanggng jawab secara sungguh-sungguh seta sikap mengambil tanggung jawab atas apa yang terjadi pada emaat (misalnya, bertanggung jawab ketika sebuah komisi melakukan kesalahan).
    Bertanggung jawab setiap hal yang dikatakan yang bisa dipegangdan dipercaya.
  • Memiliki jiwa ¬†pengabdian dan pelayanan tanpa pamrih. Pelayan gereja melakukan sukarela tanpa imbalan dan pelaayanan tanpa pamrh perlu sealu ditumbuhkembangka.6.Memiliki arakter yang rendah hati.
    Pelayan gereja perlu mewujudkan alam sikap seperti, keinginan untuk terus belajar, kesediaan lebih banyak mendengar, keterbukaan utuk di kritik bahkan kerelaan hati untuk dicaci dan disalahkan.
  • Memiliki sikap moral yang luhur

Pelayan gereja perlu memperlihatkan standar kehidupan dngan standar moral yang tinggi dengan menunjukkan dengan sungguh-sungguh. Ada 7 dosa yang mematikan harus dihindari : Kesombongan (pride), iri hati (invey), kemarahan (anger), ketamakan (gredd), nafsu birahi (lus), rakus (gluttony), kemalasan (sloth).

photo bersama.jpg

Berdasarkan ciri-ciri pelayanan tersebut,maka setiap pelayan gereja perlu memegang dan mengembangkan kode etik pelayan gereja isusun dandikbangkan oleh majelisuntuk diapkai sebagai:

  • Menghormati keputusan bersama sebagai keputusan kolektif.
  • Tidak membocorkan segala proses percakapan dalam rapat.
  • Saling menjaga nama baik sesama pelayan gerejawi.
  • Memgang”rahasia jabatan” terutama dalam hal pastoral.
  • Menggunakan kata-kata yang ramah dan santun, termasuk dalam menyapa/memanggil rekan.
  • Menghindari kata-kata yang bersikap menghina, memojokkan, menghakimi, maupun menyinggung ras/suku bangsa.
  • Memakai pakaian yang sopan dan rapih, terutama ketika bertugas di gereja.
  • Menjalankan pergaulan yang sehat di lingkungan rumah dan tepat pekerjaan.
  • Berupaya menunjukkan komitmen dengan memprioritaskan pelayanan digereja
  • Berupaya tepat waktu dalam kegiatan
  • dll

photo bersama.jpg

Pelayan gereja dituntut sempurna, walau tiak ada yang sempurna, tetapi kita perlu berupaya semaksimal mungkin untuk bisa sempurna. MakaTuhan Yesus akan menghargai kita.
Selamat Melayani.

Untuk materi pembinaan sesi ke dua adalah:
Kedudukan dan fungsi Tata Gereja di GKP

Pendahuluan:
TG dan PPTG adalah merupakan buku pedoman bergereja yang penting dipahami semua anggota jemaat, dan para pemimpinnya.
Pengertian dasar tentang tata gereja.
Setiap bentuk organisasi dimanapun dan kapanpun pasti mempunyai pedoman bagi kehidupan organisasinya, yang berisi aturan bagaimana jalannya organisasi tersebut dalam tulisan maupun lisan yang dirumuskan secara sistimatis.
Gereja sejak semula sudah mempunyai pedoman dan pengatura bagi kehidupan bersekutu, mungkin belum tertulis secara sistimatis. Apa yang tertulis dalam 1 Tim 3:1-13 merupakan bagian dari aturan persektuan mula-mula.
Pedoman dan aturan ini selanjutnya dikembangkan dngan nama TG dan PPTG,dan ketetapan ini mengikat setiap anggotanya.
Mengutip rumusan Pdt.Lazarus Purwanto (ahli dalam bidanghukum gereja) demikian :
“Yang dimaksud dengan tata gereja adalah sebuah kumpuan peraturan ertulis yang ditetapkan secara resmi oleh gereja dan bersifatmengikat, untuk menata diri agar gereja itu dalam keberadaannya yan menyeluruh dapat menampakkan kehidupan yang utuh dan dinamis, serta dapat melaksanakan tugas-tugas panggilannya di dunia secara berhasil guna (efekti) dan berdaya guna(efisien).”
Tata gereja dibuat agar gereja dapatmelaksanaka tugas dan panggilannya secara lebih baik (berhasil guna dan berdaya guna).
Dengan demikian dalam kehidupan bergeraja tidak perlu ada “hakim”, pengadilan” dan “polisi” yang bertugas menegakkan keadilan atau ketertiban. Ketertiban semata-mata agar gereja dapat menjalankan tugas panggilannya.
Tata gereja memang penting tapi bukan segala-galanya bagi gereja, harus ditempatkan secara proporsional yang terus menerus menjawab tantangan jaman. Seperti semboyan “ecclesia semper reformande” (gereja selalu diperbaharui). Hal ini sesuai dengan perkataan Paulus di Roma 12:2a “janganlah kamu serupa seperti dunia ini, tetapi berubahlah oleh pebaharuan bedimu:

Fungsi TG.
Tata gereja sebagai kompas yang menolong gereja dalam menjalani kehidupannya.
Sedapat mungkin kita ikuti dan patuhi, karena kesepakan bersama, tetapi dalam hal tertentu “mengharuskan” kita untuk “melangar” maka kita tetap menjalankan tugas kita sebagai gereja.
Adadua kecenderungan yang harus kita hindari,pertama mensakralkan tata gereja yang akan bersifat legalistik seperti para ahli torat dan sebaliknya meremehkan dan mengesampingkan tata gereja seingga anarkis, masa bodoh dengan segala aturan dan ketentuan yang sesungguhnya sdah jadi kesepakatan.

Beberapa prinsip TG GKP

  • Sistem presbyterial sinodal (presbyter atau pelayan gereja yang yang “berjalan” bersama): jemaat merupakan basis dan sinode sebagai gerak kebersamaan.
  • Berkaitan dengan sistem prebyterial sinodal perlu memahamivtata hubungan yang setara dan dinamis antar berbagai aras.
  • Perlunya memahami hirarki peraturan.
  • Perlunya memahami tradisi dan ajaran gereja reformasi, khususnya tradisi dan ajaran gereja Calvinis yang beberapa hal berbeda dengan pemahaman gereja Lutheran. Misalnya soal kedudukan Pendeta dan Majelis jemaat, soal perjamuan kudus soal baptisan, soal perkawinan dsb
  • Perlunya memahami model kepemimpinan gerejawi yang dikembangkan oleh GKP yang model kepemimpinan bersifat melayani (pelayan-pemimpin), kolektif (tidak berjenjang/bertingkat) kolegial (kerekanan yang saling mendukung).
  • Perlunya memahami prinsip kebaktian sebagai sarana perjumpaan dengan Tuhan dan sesama.Peranan Jemaat dalam kebaktin merupakan yang utama.
  • Perlunya menghayati sakramen sebagai bentuk pelayanan gereja, sehingga sakramen bukan sekedar “tawaran” bagi siapa yang mau atau perlu, tapi ajakan agar jemaat mengikuti dan mengambil bagian.
  • Prinsip perkawinan yan legalitasnya pada negara, pelayaan pemberkatan nikan hanya dilakukan berdasarkan perkawinan yang dilakukan di kantor catatan sipil.
  • Prinsip pengembalaan khusus sebagai upaya menjaga, memelihara dan membangun jemaat.
  • Prinsip rapat sebagai sarana megnambil keputusan yang perlu dihayati sebagai doa bersama dalam mencari kehendak Tuhan.

Penutup:
Memahamai TG perlu waktu, jadi diperlukan upaya terus menerus untuk mempelajari dan memahamiya, bukan pemimpin saja tetapi seluruh anggota jemaat.
Dengan demikian TG tiak menjadi “torat” baru, tetapi juga tidak diabaikan dan dilupakan.
Tuhan memberkati pelayanan kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s