SEJARAH KEHIDUPAN OMPU TUAN MANORSA

26/03/2019,  6:47 pm “Didapat dari inaguda saya di Perum AL Pasar Minggu”

RIP Tulang Samen Purba (7)

20160728_215454

Photo dari “http://purbalaban.blogspot.com/”

Saribu Dolok adalah satu desa di Simamora Nabolak tempat kelahiran Tuan Manorsa. Simargalung adalah satu desa yang terletak di lobu Sunuk – Huta Tinggi (Kabupaten Tapanuli Utara), dimana Tuan Manorsa meminang seorang gadis, putri Raja Ompu Lamak Nabolon marga Pasaribu-Habeahan menjadi istrinya (parsonduk bolon).
Dari pernikahan Tuan Manorsa dengan boru Pasaribu Habaeahan di karuniai 3 (tiga) anak laki – laki yaitu : SORTAMALELA, TARAIM dan SOIMBANGON

Tuan Manorsa ada menerima Pusaka/ilmu perdukunan dari orangtuanya, yaitu RAJA PURBA PARHORBO (anak kedua dari Toga Purba), berupa TORSA – TORSA perdukunan. Itulah sebabnya ia disebut TUAN MANORSA.
Sebagai seorang dukun, Tuan Manorsa juga suka berkelana kemana-mana dan bermain judi, dimana hal-hal yang demikian adalah pekerjaan dan kebiasaan dari anak-anak Raja pada zamanya.

Pada suatu hari sepulang dari perjalanan, Tuan Manorsa menyuruh ompung boru Pasaribu menagih hutang dari paribannya (adik) yang bernama SORIMUNGGU MANALU (suami dari adik istrinya sendiri), dimana hutang tersebut adalah hasil kemenanganya pada waktu bermain judi dengan Sorimunggu Manalu.
Pesan Tuan Manorsa kepada ompung boru Pasaribu, jika hutangnya sudah dibayar jangan lupa sekalian meminjam Ninggala (alat untuk bertani) untuk dipakai oleh pekerja sawah kita nanti.
Pada saat ompung boru Pasaribu tiba di Lobu Sunuk Toho, ditemuinya paribanya sedang menyisir rambut dan mencari kutu Sori Munggu Manalu,dimana pada zaman itu kaum laki-laki pun berambut panjang.
Setelah ompung boru sampai di rumah adiknya ia memberitahu maksud dan tujuannya adalah untuk menagih hutang Sori Munggu Manalu dan mau meminjam Ninggala.
Atas keramah tamahan adiknya menyambut kedatangan kakaknya, adiknya menjawab soal hutang nanti akan saya bayar, tetapi kita harus makan terlebih dahulu.
Sambil menunggu nasi dimasak, adiknya mengajak kakaknya untuk bersama-sama mencari kutu Sori Munggu Manalu sambil ngobrol-ngobrol (berbincang-bincang).

Karena sudah lama menunggu pulangnya ompung boru, maka Tuan Manorsa menyuruh asistennya menyusul menanyakan apa sebabnya ompung boru lama sekali belum pulang.
Sesudah asistennya tiba di rumah Sori Munggu Manalu, dia melihat ompung boru sedang mengobrol dengan adiknya sambil mencari kutu Sori Munggu. Mendengar laporan yang diberitahu,apa yang di lihat oleh asistennya membuat dia menjadi marah dan beringas, maka Tuan Manorsa pun segera menyusul dengan menunggangi kuda Sihapas Pili untuk membuktikan apa yang dilihat oleh asistennya itu benar atau tidak.
Setelah tiba di depan pintu gerbang tempat Sori Munggu, dari kejauhan Tuan Manorsa melihat dan menyaksikan apa yang dilaporkan oleh asistennya itu benar, maka dengan cepat dia beranjak pulang.
Dari kejauhan sebenarnya ompung boru Pasaribu juga sempat melihat wajah Tuan Manorsa di depan pintu gerbang, melihat kejadian itu ompung boru Pasaribu pun merasa heran dan ketakutan. Maka ompung boru merasa bahwa Tuan Manorsa sudah dalam keadaan marah sehingga dia langsung berpamitan pulang kepada adiknya.

Sesudah ompung boru Pasaribu tiba di rumah, Tuan Manorsa pun bertanya, kenapa begitu lama?
Ompung boru Pasaribu dengan jujur menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada Tuan Manorsa, dimana paribanya mengajak supaya terlebih dahulu kita makan bersama, tetapi sebelum nasinya masak, sambil ngobrol-ngobrol adik mengajak untuk bersama-sama menyisir rambut dan mencari kutu Ompu Sori Munggu Manalu.
Rupanya Tuan Manorsa telah mengasah pisau sebelumnya dengan sangat tajam, mendengar cerita itu dalam keadaan marah dan beringas Tuan Manorsa langsung menangkap payudara sebelah kiri ompung boru dan memotongnya. Itulah sebabnya Tuan Manorsa disebut orang SITAMPUL ABUNA (sitampul par-hutana).

Seketika itu ompung boru Pasaribu pun menjerit dengan sekuat-kuatnya sehingga para tetangga berdatangan untuk melihat apa yang terjadi.
Kemudian sampailah berita itu kepada martua Tuan Manorsa, yaitu Raja Ompu Lamak Nabolon Pasaribu-Hebeahan. Setelah melihat keadaan ompung boru Pasaribu, maka Tuan Manorsa pun terhentak sadar akan perbuatanya yang sangat keji itu dan dia pun ketakutan mendengar kemarahan mertuanya. Maka dengan cepat Tuan Manorsa pergi meninggalkan ompung boru Pasaribu dengan 3 orang anak yang masih kecil-kecil yaitu Sorta Malela, Taraim, dan Soimbagon dalam keadaan menangis.
Hal itulah yang menyebabkan ompung boru Pasaribu meninggal dunia dan beliau di kebumikan di kampung (Huta) Simargalung, dan Raja Ompu Lamak Nabolon Pasaribu-Habeahan masih terus marah dan mencari Tuan Manorsa kemana pergi melarikan diri.
Rupanya Tuan Manorsa pergi melarikan diri ke kampung Sitonggi-tonggi Pollung Dolok Sanggul.
Disana dia meminang seorang wanita menjadi istrinya yaitu ompung boru br. Tamba, dan akhinya mereka tinggal/bermukin disana.
Pada waktu Tuan Manorsa bermukim di kampung Sitonggi-tonggi Pollung Dolok Sanggul, dalam hatinya dia berniat untuk dapat tinggal selamanya bersama-sama Raja Marbun (yang empunya kampung itu), maka dia pun berusaha bagaimana caranya supaya Raja Marbun mau menerimanya.
Maka Tuan Manorsa pun mejalankan Torsa-Torsanya untuk memikat hati Raja Marbun. Dimana Raja Marbun pun merasa tertolong oleh tenaga Tuan Manorsa untuk mengikat kerbau sebelum di potong.
Dan Tuan Manorsa pun sangat sering mentraktir (manggalang) marga Marbun di kedai (lapo tuak) agar dia disukai penduduk disana. Hingga pada suatu waktu Tuan Manorsa pernah menancapkan sebatang kayu pohon karet (gorat) di halaman rumahnya sebagai tanda mengikat kerbau yang akan dipotong, dan lama kelamaan kayu (pohon karet) itu pun menjadi tumbuh dan di sebutlah “Gorat ni Purba”.
Walaupun demikian, ternyata Raja Marbun tidak menginginkan Tuan Manorsa untuk tinggal menetap di kampung mereka apa lagi untuk menjadi Raja (penguasa), maka dengan diam-diam Raja Marbun pun memberitahukan keberadaan Tuan Manorsa kepada Raja Ompu Lamak Nabolon Pasaribu bahwa Tuan Manorsa berada di kampung mereka yaitu di Pollung.
Setelah Raja Ompu Lamak Nabolon Pasaribu mengetahui kabar keberadaan Tuan Manorsa dari Raja Marbun, maka Raja Ompu Lamak Nabolon Pasaribu pun langsung mengejar Tuan Manorsa ke Pollung maka Tuan Manorsa pun ketakutan dengan ompung boru br. Tamba
Dari ompung boru Tamba selama bermukim di Pollung di karuniai 1 orang anak laki-laki yang diberi nama Raja Binuang.
Nama Raja Binuang adalah nama yang sesuai dengan keberadaan Tuan Manorsa yang merasa di buang oleh Raja Marbun karena tidak mau menerima Tuan Manorsa tinggal selamanya di Pollung, maka Tuan Manorsa pun segera hijrah ke kampung mertuanya di daerah Tamba untuk menyelamatkan diri.
Sebelum hijrah ke kampung Tamba, Tuan Manorsa meninggalkan dan menyembunyikan seperangkat gong (ogung) di salah satu kebunnya (?)

Dikampung mertuanya kampung Tamba, Tuan Manoras merasa aman karena tidak mungkin lagi Raja Ompu Lamak Nabolon Pasaribu-Habeahan berani datang ke sana.
Di kampung Tamba lahirlah anak ke II dari ompung boru br. Tamba yang di beri nama Raja Hinonghop. Nama itu pun disesuikan dengan keadaan, dimana mertua Tuan Manorsa yakni Raja Tamba sudah melindungi (manghophop) dan mengomgom Tuan Manorsa serta cucunya.
Tuan Manorsa pun merasa aman atas perlindungan mertuanya Raja Tamba dan kedua anaknya Raja Binuang dan Raja hinonghop.

PEJALANAN TUAN MANORSA HINGGA KE HARANGGAOL ( SIMALUNGUN )

Sebagai seorang dukun, kesukaan (hobby) atau kebiasaan Tuan Manorsa adalah berburu dengan “Marultop”. Dia suka berkelana kemana-mana untuk mencari tempat yang lebih baik buat kehidupan keluarganya kelak.
Suatu hari dia berburu (mangultop) seekor burung Perkutut (namanya Anduhur Bonbon), karena burung itu tidak langsung jatuh dan masih bisa terbang kemana-mana, Tuan Manorsa pun terus mengikutinya dan akhirnya dia pun tiba di suatu kampung yang bernama Saribu Dolok, disanalah dia menangkap burung Perkutut yang di ultopnya itu, kemudian dia memotongnya dan dari dalam perut burung itu banyak butiran-butiran padi dan butir padi itu ditanam nya dan ternyata hasilnya tumbuh dengan subur.
Setelah melihat pertumbuhan butir padi tersebut timbul dalam pikiran nya bahwa daerah ini layak untuk pemukiman, Tuan Manorsa pun ingin tinggal menetap di tempat itu, dengan maksud agar jauh dari martuanya dan hidup lebih tenang, maka dia bergegas pulang ke kampung Tamba untuk membawa istri (ompung boru Tamba) beserta kedua anaknya Raja Binuang dan Raja Hinonghop.
Setelah tiba di kampung Tamba, ternyata ompung boru Tamba sedang dalam keadaan sakit keras lalu meninggal dunia.
Karena Tuan Manorsa sudah bertekad akan pindah ke Saribu Dolok yaitu tanah Simalungun maka Tuan Manorsa dengan cara baik-baik berpamitan kepada martuanya untuk membawa kedua anaknya ke Saribu Dolok mengingat tumbuhnya padi yang sudah di tanamnya sangat subur.
Karena Tuan Manorsa telah menjadi seorang duda, maka dia pergi berkelana turun ke arah Harangan Gaol dengan maksud mencari pendampingnya untuk di jadikan ibu untuk kedua anaknya.
Didalam perjalanan di suatu tanjakan ada satu desa yang bernama Huta Suah (Suah = Toruan) yang dikuasai oleh Raja bermarga Simbolon.
Dalam perjalan itu Tuan Manorsa ditimpa hujan lebat, dan dalam keadaan kedinginan dia meminta berteduh di rumah raja marga Simbolon itu.
Karena dinginnya perasaan Tuan Manorsa dia memohon kepada tuan rumah agar dapat duduk dekat api di dapur untuk menghangatkan tubuhnya.
Kemudian istri raja itu mempersilahkan Tuan Manorsa menuju dapur.
Setelah merasa hangat dia mencoba mencari perhatian dengan menunjukan kebolehannya dalam ilmu perdukunan, lalu dia menekan tungku api (Dalihan) yang terbuat dari batu dengan jarinya, sehingga tungku itu pun menjadi pecah dan hancur.
Lalu Tuan Manorsa bertanya kepada istri raja Simbolon itu ; di buat dari bahan apa tungku api ini inang, kenapa begitu mudah pecah?
Istri raja itu pun menjawab ; dibuat dari batu yang keras oleh raja Simbolon di kampung ini amang. Lalu kenapa begitu mudah pecah?, Dan Tuan Manorsa pun menekan batu yang lain sehingga pecah pula. Tuan Manorsa berjanji akan membuatkan tungku yang lebih bagus.
Melihat kejadian itu istri raja itupun sangat tercengang dan merasa ketakutan, sehingga memberitahukan kepada raja Simbolon.
Lalu pada minggu berikutnya Tuan Manorsa datang lagi ke Huta Suah itu, juga di timpah hujan oleh hujan yang amat deras, kemudian Tuan Manorsa minta berteduh lagi di rumah itu dan memohon supaya di nyalakan api. Karena Tuan Manorsa merasa sangat kedinginan, kemudian dia memeluk api yang dinyalakan oleh istri raja Simbolon itu dan menaruh kakinya di atas api yang membara, dan ternyata kaki Tuan Manorsa tidak terbakar dan tidak terjadi apa-apa.
Istri raja Simbolon itupun semakin terheran-heran dan terkagum-kagum sehingga hal itu di beritahukan lagi kepada raja Simbolon. Oleh sebab itulah timbul niat dalam hati istri raja Simbolon ingin menjadikan Tuan Manorsa menjadi menantunya (Hela) .
Lalu Raja Simbolon menganjurkan kepada istrinya supaya putri (boru) nya dibujuk agar mau di peristri oleh Tuan Manorsa, tetapi Putri Raja Simbolon tidak mau menuruti permintaan orang tuanya, karena perbedaan umur mereka yang sangat berbeda (tidak sepadan).
Setelah Putri Raja itu di bujuk oleh istri raja Simbolon, akhirnya Putri Raja itu mau menjadi istri Tuan Manorsa dengan syarat : apa yang diminta oleh Putri Raja Simbolon supaya di turuti oleh orang tuanya.
Jika menjadi istri Tuan Manorsa, maka pernyataan saya “Bahwa suatu saat kelak Tuan Manorsalah yang menjadi Raja di tanah dan air yang ada di Huta Suah ini”
Karena Raja Simbolon sudah menginginkan Tuan Manorsa menjadi menantu (Hela) nya, maka dibuatlah suatu permufakatan perjanjian (parpadanan) bahwa pada suatu kelak tanah dan air yang ada di Huta Suah menjadi milik mereka (keturunan Tuah Manorsa).
Sejak itu jadilah Tuan Manorsa menjadi hela Raja Marga Simbolon dan kedua anaknya Raja Binuang dan Raja Hinonghop yang dibawahnya dari Saribu Dolok ke Huta Suah Simalungun yang disebut sekarang Harangan Gaol.

Selama hidupnya Raja Simbolon masih tetap sebagai Raja di Huta Suah. Dan setelah Raja Simbolon meninggal dunia Tuan Manorsalah yang menjadi Raja, sebagaimana yang sudah di janjikan dan namanya berubah menjadi Huta Suah.
Dalam perjalanan hidupnya, Tuan Manorsa cukup lama menjadi Raja di Huta Suah dan di ikuti oleh keturunannya, dan di kemudian hari nama Huta Suah diganti/ dibuat menjadi Huta Purba Saribu .

Di Purba Saribulah terletak makam Tuan Manorsa, yang sudah 2X di renovasi oleh keturunannya yakni Tahun 1963 dan Tahun 1974. Sedangkan di Simamora Nabolak Tapanuli Utara (tempat kelaharinnya) di bangunlah satu tugu peringatan yang disebut “Tugu Tuan Manorsa”.
Demikianlah Sejarah Kehidupan Ompu Tuan Manorsa dari tempat kelahiran Simamora Nabolak hingga ke Harang Gaol (Tanah Simalungun).

NB
1. Di Jakarta sudah ada berdiri Paguyuban Marga Purba dari Harang Gaol yang bernama “PURDASAGA” Singkatan dari “PURBA SARIBU BANDAR SARIBU TANGGA BATU”.
2. Karena begitu bagusnya kepemimpinan Tuan Manorsa di Harangan Gaol, oleh marga Simbolon Raja Binuang di ganti menjadi Raja Ginonggom, karena Raja Simbolon mangomgom dan manghophop kedua cucunya dan Raja Ginonggom menjadi SUNGGU RAJA. Sedangkan Raja Hinonghop namanya tetap
3. Raja Hinonghop adalah Ompung dari PURBA TONDANG dan PURBA TAMBUN SARIBU (yang bungsu)
4. Sejarah kehidupan Ompu Tuan Manorsa ini di terjemahkan dari buku Tarombo Pompara ni Tuan Manorsa yang dikumpulkan dan di susun oleh Guru A. Purba (Almarhum) – Ompu Parasian, pensiunan Kepala SMP Negeri Sidikalang Dairi.
5. Penterjemah mohon maaf jika dalam bahasa penyampaian, atau menterjemahkan dari bahasa daerah ke bahasa indonesia sangat kurang sempurna

Penterjemah :

St. T.P. Purba / Op. Duta
Ketua Punguan Pomparan Tuan Manorsa- Boru & Bere Sejabodetabek
Hingga 12Maret 2013
26/03/2019, 9:16 pm – gultom125.com: Mauliate, izin di web
26/03/2019, 9:17 pm – I Ato Purba: Ok 👍👍👍

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s