snow world internatioanl bekasi-revo

Bagi yang berkeinginan main slaju dan merasakan bagaimana suasana salju, maka tidak akan sulit lagi kita mencapai dengan biaya yang terjangkau.
Karena tidak akan perlu lagi perlu kedaerah/kota atau ke luar negeri  yang bersalju seperti Amerika, dan lainnya dekat kutub utara.
Dengan banyaknya tujuan rekreasi telah dibangun juga kondisi yang sama seperti di luaran sana seperti asli, yaitu ada di Transmart junda Bekasi kota yang lumayan wah dan tentunya juga duitnya.
Tapi kalau hanya ingin sekedar mengetahui dan merasakan dengan kantong yang pasa-pasan ada tujuan baru yaitu di snoworld revo-bekasi. Ticketnya cukup terjangkau yaitu Rp 60,000 per orang dengan bermain bersalju sepuasnya.
Asal cukup kuat saja, karena walaupun disediakan jaket tetap saja lama-kelamaan akan dingin

.
Apalagi sampai kita bermain salju (lempar-lemparan) ini akan mempercepat merasakan dingin.
Bagi yang berkeinginan silahkan datang dan bermain tentu jangan lupa mempersiapkan bekal khususnya untuk penghangat bada seperti kaos kaki, sepatu sarung tangan jika perlu jaket juga lebih baik walau sudah disediakan.


OK… guys…demikian sekelumit info bagi yang ingin bermain salju dan es…

Terima kasih telah mampir dan membaca (Jun 29 – 2019).

Advertisements

Devoyage Bogor lebaran 2019

devoyagejun2019 (24)

Tidak terasa sudah lebaran lagi, padahal masih baru kemarin sepertinya lebaran …:)
Karena tidak ada rencana untuk pergi keluar kota seperti biasa, maka direncanakan bisa refreshing ke tempat hiburan atau rekreasi.
Kali ini rencana pergi ke devoyage yang berada di Bogor pada hari Kamis Jun 06, 2019.
Ditempat ini kita akan menemukan berdirinya atau mulainya dibangun sesuatu di itali seperti “pisa” menara miring yang dibangun tahun 1173, ikon kota london jam big ben yang dibangun pada tahun 1859 dipuncak menara santo stephen digedung parlemen westninster,

red phone box pertama kali diperkenalkan tahun 1920, tower bridge, London eye dan bus tingkat berwarna merah juga sebagai ciri kota london. Eiffel tower yang dibangun tahun 1887 di France, tidak ketinggalan Windwill/kincir di Rotterdam yang dibangun sejak tahun 1421.

Perginya ketempat ini, minimal kita mengetahui sejarahnya bagian europe serta icon dan bangunan yang bersejarah.
Memang tempatnya tidak begitu luas, karena dengan waktu 3 jam-an kita sudah bisa mengelilingi serta memandang seluruhnya.

Sekembalinya dari devoyage rencana makan di rumah air yang bersebelahan dengan dovoyage, tapi ternyata sudah kalah/telat karena antri-an panjang, sehingga di alihkan ke tempat lain yaitu rumah makan bakul-bakuld dekat entry pintu toll bogor , karena hanya rumah makan ini yang sepi pengunjung. sementara kampung tengah tidak mau lagi diajak kompromi.

Setelah selesai urusan perut kembali meluncur ke bekasi, dan kembali ke rutinitas menyelsaikan pekerjaan rumah karnea masih libur ….
Mudah-mudahan ini menjadi sedikit penambah wawasan yang punya rencana akan mencari tempat hiburan atau rekreasi keluarga….

Terima kasih telah mampir

 

Kebaktian Etnic pra-kenaikan

budaya-etnic (15)

Dalam rangka pra-kenaikan, GKP bekasi mengadakan kebaktian dengan ragam etnic.
Mulai dari etnic batak, Bali, jawa, indonesia timur, betawi dan terakhir sunda.

budaya-etnic (4)

budaya-etnic (6)

budaya-etnic (7)

budaya-etnic (5)
Ada baiknya dibuat karena minimal bisa mengenang atau menghilangkan rasa rindu akan kampung halapan bagi yang tidak bisa pulang.

budaya-etnic (8)
Baiknya lagi disamping dengan busana etnic, termasuk juga music pengiring pujian sehingga seperti di kampung halaman mengadakan kebaktian.

budaya-etnic (14)

budaya-etnic (11)

budaya-etnic (13)

budaya-etnic (12)
Baguslah dan terima kasih kepada team Music Gerejawi yang di koordinir oleh Ibu dortje Riri.
Biarlah pelayanan ibu dan semua pendukung dalam setiap kebaktian berjalan dengan baik dan berkenan dihadirat Tuhan kita Yesus Kristus, tentu tidak kalah dalam pelayanan komisi hari raya gerejawi yang telah ambil bagian khsusnya dalam pendekoran gereja sehingga suasana seperti etnic yang berlaku pada hari kebaktian tersebut.

budaya-etnic (17)

budaya-etnic (21)

budaya-etnic (22)

budaya-etnic (20)

budaya-etnic (18)

Desamping kebaktian budaya juga diisi dengan donor daranh yang bekerja sama dengan PMI Kab Bekasi.

 

Tuhan memberkati.

 

SEJARAH KEHIDUPAN OMPU TUAN MANORSA

26/03/2019,  6:47 pm “Didapat dari inaguda saya di Perum AL Pasar Minggu”

RIP Tulang Samen Purba (7)

20160728_215454

Photo dari “http://purbalaban.blogspot.com/”

Saribu Dolok adalah satu desa di Simamora Nabolak tempat kelahiran Tuan Manorsa. Simargalung adalah satu desa yang terletak di lobu Sunuk – Huta Tinggi (Kabupaten Tapanuli Utara), dimana Tuan Manorsa meminang seorang gadis, putri Raja Ompu Lamak Nabolon marga Pasaribu-Habeahan menjadi istrinya (parsonduk bolon).
Dari pernikahan Tuan Manorsa dengan boru Pasaribu Habaeahan di karuniai 3 (tiga) anak laki – laki yaitu : SORTAMALELA, TARAIM dan SOIMBANGON

Tuan Manorsa ada menerima Pusaka/ilmu perdukunan dari orangtuanya, yaitu RAJA PURBA PARHORBO (anak kedua dari Toga Purba), berupa TORSA – TORSA perdukunan. Itulah sebabnya ia disebut TUAN MANORSA.
Sebagai seorang dukun, Tuan Manorsa juga suka berkelana kemana-mana dan bermain judi, dimana hal-hal yang demikian adalah pekerjaan dan kebiasaan dari anak-anak Raja pada zamanya.

Pada suatu hari sepulang dari perjalanan, Tuan Manorsa menyuruh ompung boru Pasaribu menagih hutang dari paribannya (adik) yang bernama SORIMUNGGU MANALU (suami dari adik istrinya sendiri), dimana hutang tersebut adalah hasil kemenanganya pada waktu bermain judi dengan Sorimunggu Manalu.
Pesan Tuan Manorsa kepada ompung boru Pasaribu, jika hutangnya sudah dibayar jangan lupa sekalian meminjam Ninggala (alat untuk bertani) untuk dipakai oleh pekerja sawah kita nanti.
Pada saat ompung boru Pasaribu tiba di Lobu Sunuk Toho, ditemuinya paribanya sedang menyisir rambut dan mencari kutu Sori Munggu Manalu,dimana pada zaman itu kaum laki-laki pun berambut panjang.
Setelah ompung boru sampai di rumah adiknya ia memberitahu maksud dan tujuannya adalah untuk menagih hutang Sori Munggu Manalu dan mau meminjam Ninggala.
Atas keramah tamahan adiknya menyambut kedatangan kakaknya, adiknya menjawab soal hutang nanti akan saya bayar, tetapi kita harus makan terlebih dahulu.
Sambil menunggu nasi dimasak, adiknya mengajak kakaknya untuk bersama-sama mencari kutu Sori Munggu Manalu sambil ngobrol-ngobrol (berbincang-bincang).

Karena sudah lama menunggu pulangnya ompung boru, maka Tuan Manorsa menyuruh asistennya menyusul menanyakan apa sebabnya ompung boru lama sekali belum pulang.
Sesudah asistennya tiba di rumah Sori Munggu Manalu, dia melihat ompung boru sedang mengobrol dengan adiknya sambil mencari kutu Sori Munggu. Mendengar laporan yang diberitahu,apa yang di lihat oleh asistennya membuat dia menjadi marah dan beringas, maka Tuan Manorsa pun segera menyusul dengan menunggangi kuda Sihapas Pili untuk membuktikan apa yang dilihat oleh asistennya itu benar atau tidak.
Setelah tiba di depan pintu gerbang tempat Sori Munggu, dari kejauhan Tuan Manorsa melihat dan menyaksikan apa yang dilaporkan oleh asistennya itu benar, maka dengan cepat dia beranjak pulang.
Dari kejauhan sebenarnya ompung boru Pasaribu juga sempat melihat wajah Tuan Manorsa di depan pintu gerbang, melihat kejadian itu ompung boru Pasaribu pun merasa heran dan ketakutan. Maka ompung boru merasa bahwa Tuan Manorsa sudah dalam keadaan marah sehingga dia langsung berpamitan pulang kepada adiknya.

Sesudah ompung boru Pasaribu tiba di rumah, Tuan Manorsa pun bertanya, kenapa begitu lama?
Ompung boru Pasaribu dengan jujur menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada Tuan Manorsa, dimana paribanya mengajak supaya terlebih dahulu kita makan bersama, tetapi sebelum nasinya masak, sambil ngobrol-ngobrol adik mengajak untuk bersama-sama menyisir rambut dan mencari kutu Ompu Sori Munggu Manalu.
Rupanya Tuan Manorsa telah mengasah pisau sebelumnya dengan sangat tajam, mendengar cerita itu dalam keadaan marah dan beringas Tuan Manorsa langsung menangkap payudara sebelah kiri ompung boru dan memotongnya. Itulah sebabnya Tuan Manorsa disebut orang SITAMPUL ABUNA (sitampul par-hutana).

Seketika itu ompung boru Pasaribu pun menjerit dengan sekuat-kuatnya sehingga para tetangga berdatangan untuk melihat apa yang terjadi.
Kemudian sampailah berita itu kepada martua Tuan Manorsa, yaitu Raja Ompu Lamak Nabolon Pasaribu-Hebeahan. Setelah melihat keadaan ompung boru Pasaribu, maka Tuan Manorsa pun terhentak sadar akan perbuatanya yang sangat keji itu dan dia pun ketakutan mendengar kemarahan mertuanya. Maka dengan cepat Tuan Manorsa pergi meninggalkan ompung boru Pasaribu dengan 3 orang anak yang masih kecil-kecil yaitu Sorta Malela, Taraim, dan Soimbagon dalam keadaan menangis.
Hal itulah yang menyebabkan ompung boru Pasaribu meninggal dunia dan beliau di kebumikan di kampung (Huta) Simargalung, dan Raja Ompu Lamak Nabolon Pasaribu-Habeahan masih terus marah dan mencari Tuan Manorsa kemana pergi melarikan diri.
Rupanya Tuan Manorsa pergi melarikan diri ke kampung Sitonggi-tonggi Pollung Dolok Sanggul.
Disana dia meminang seorang wanita menjadi istrinya yaitu ompung boru br. Tamba, dan akhinya mereka tinggal/bermukin disana.
Pada waktu Tuan Manorsa bermukim di kampung Sitonggi-tonggi Pollung Dolok Sanggul, dalam hatinya dia berniat untuk dapat tinggal selamanya bersama-sama Raja Marbun (yang empunya kampung itu), maka dia pun berusaha bagaimana caranya supaya Raja Marbun mau menerimanya.
Maka Tuan Manorsa pun mejalankan Torsa-Torsanya untuk memikat hati Raja Marbun. Dimana Raja Marbun pun merasa tertolong oleh tenaga Tuan Manorsa untuk mengikat kerbau sebelum di potong.
Dan Tuan Manorsa pun sangat sering mentraktir (manggalang) marga Marbun di kedai (lapo tuak) agar dia disukai penduduk disana. Hingga pada suatu waktu Tuan Manorsa pernah menancapkan sebatang kayu pohon karet (gorat) di halaman rumahnya sebagai tanda mengikat kerbau yang akan dipotong, dan lama kelamaan kayu (pohon karet) itu pun menjadi tumbuh dan di sebutlah “Gorat ni Purba”.
Walaupun demikian, ternyata Raja Marbun tidak menginginkan Tuan Manorsa untuk tinggal menetap di kampung mereka apa lagi untuk menjadi Raja (penguasa), maka dengan diam-diam Raja Marbun pun memberitahukan keberadaan Tuan Manorsa kepada Raja Ompu Lamak Nabolon Pasaribu bahwa Tuan Manorsa berada di kampung mereka yaitu di Pollung.
Setelah Raja Ompu Lamak Nabolon Pasaribu mengetahui kabar keberadaan Tuan Manorsa dari Raja Marbun, maka Raja Ompu Lamak Nabolon Pasaribu pun langsung mengejar Tuan Manorsa ke Pollung maka Tuan Manorsa pun ketakutan dengan ompung boru br. Tamba
Dari ompung boru Tamba selama bermukim di Pollung di karuniai 1 orang anak laki-laki yang diberi nama Raja Binuang.
Nama Raja Binuang adalah nama yang sesuai dengan keberadaan Tuan Manorsa yang merasa di buang oleh Raja Marbun karena tidak mau menerima Tuan Manorsa tinggal selamanya di Pollung, maka Tuan Manorsa pun segera hijrah ke kampung mertuanya di daerah Tamba untuk menyelamatkan diri.
Sebelum hijrah ke kampung Tamba, Tuan Manorsa meninggalkan dan menyembunyikan seperangkat gong (ogung) di salah satu kebunnya (?)

Dikampung mertuanya kampung Tamba, Tuan Manoras merasa aman karena tidak mungkin lagi Raja Ompu Lamak Nabolon Pasaribu-Habeahan berani datang ke sana.
Di kampung Tamba lahirlah anak ke II dari ompung boru br. Tamba yang di beri nama Raja Hinonghop. Nama itu pun disesuikan dengan keadaan, dimana mertua Tuan Manorsa yakni Raja Tamba sudah melindungi (manghophop) dan mengomgom Tuan Manorsa serta cucunya.
Tuan Manorsa pun merasa aman atas perlindungan mertuanya Raja Tamba dan kedua anaknya Raja Binuang dan Raja hinonghop.

PEJALANAN TUAN MANORSA HINGGA KE HARANGGAOL ( SIMALUNGUN )

Sebagai seorang dukun, kesukaan (hobby) atau kebiasaan Tuan Manorsa adalah berburu dengan “Marultop”. Dia suka berkelana kemana-mana untuk mencari tempat yang lebih baik buat kehidupan keluarganya kelak.
Suatu hari dia berburu (mangultop) seekor burung Perkutut (namanya Anduhur Bonbon), karena burung itu tidak langsung jatuh dan masih bisa terbang kemana-mana, Tuan Manorsa pun terus mengikutinya dan akhirnya dia pun tiba di suatu kampung yang bernama Saribu Dolok, disanalah dia menangkap burung Perkutut yang di ultopnya itu, kemudian dia memotongnya dan dari dalam perut burung itu banyak butiran-butiran padi dan butir padi itu ditanam nya dan ternyata hasilnya tumbuh dengan subur.
Setelah melihat pertumbuhan butir padi tersebut timbul dalam pikiran nya bahwa daerah ini layak untuk pemukiman, Tuan Manorsa pun ingin tinggal menetap di tempat itu, dengan maksud agar jauh dari martuanya dan hidup lebih tenang, maka dia bergegas pulang ke kampung Tamba untuk membawa istri (ompung boru Tamba) beserta kedua anaknya Raja Binuang dan Raja Hinonghop.
Setelah tiba di kampung Tamba, ternyata ompung boru Tamba sedang dalam keadaan sakit keras lalu meninggal dunia.
Karena Tuan Manorsa sudah bertekad akan pindah ke Saribu Dolok yaitu tanah Simalungun maka Tuan Manorsa dengan cara baik-baik berpamitan kepada martuanya untuk membawa kedua anaknya ke Saribu Dolok mengingat tumbuhnya padi yang sudah di tanamnya sangat subur.
Karena Tuan Manorsa telah menjadi seorang duda, maka dia pergi berkelana turun ke arah Harangan Gaol dengan maksud mencari pendampingnya untuk di jadikan ibu untuk kedua anaknya.
Didalam perjalanan di suatu tanjakan ada satu desa yang bernama Huta Suah (Suah = Toruan) yang dikuasai oleh Raja bermarga Simbolon.
Dalam perjalan itu Tuan Manorsa ditimpa hujan lebat, dan dalam keadaan kedinginan dia meminta berteduh di rumah raja marga Simbolon itu.
Karena dinginnya perasaan Tuan Manorsa dia memohon kepada tuan rumah agar dapat duduk dekat api di dapur untuk menghangatkan tubuhnya.
Kemudian istri raja itu mempersilahkan Tuan Manorsa menuju dapur.
Setelah merasa hangat dia mencoba mencari perhatian dengan menunjukan kebolehannya dalam ilmu perdukunan, lalu dia menekan tungku api (Dalihan) yang terbuat dari batu dengan jarinya, sehingga tungku itu pun menjadi pecah dan hancur.
Lalu Tuan Manorsa bertanya kepada istri raja Simbolon itu ; di buat dari bahan apa tungku api ini inang, kenapa begitu mudah pecah?
Istri raja itu pun menjawab ; dibuat dari batu yang keras oleh raja Simbolon di kampung ini amang. Lalu kenapa begitu mudah pecah?, Dan Tuan Manorsa pun menekan batu yang lain sehingga pecah pula. Tuan Manorsa berjanji akan membuatkan tungku yang lebih bagus.
Melihat kejadian itu istri raja itupun sangat tercengang dan merasa ketakutan, sehingga memberitahukan kepada raja Simbolon.
Lalu pada minggu berikutnya Tuan Manorsa datang lagi ke Huta Suah itu, juga di timpah hujan oleh hujan yang amat deras, kemudian Tuan Manorsa minta berteduh lagi di rumah itu dan memohon supaya di nyalakan api. Karena Tuan Manorsa merasa sangat kedinginan, kemudian dia memeluk api yang dinyalakan oleh istri raja Simbolon itu dan menaruh kakinya di atas api yang membara, dan ternyata kaki Tuan Manorsa tidak terbakar dan tidak terjadi apa-apa.
Istri raja Simbolon itupun semakin terheran-heran dan terkagum-kagum sehingga hal itu di beritahukan lagi kepada raja Simbolon. Oleh sebab itulah timbul niat dalam hati istri raja Simbolon ingin menjadikan Tuan Manorsa menjadi menantunya (Hela) .
Lalu Raja Simbolon menganjurkan kepada istrinya supaya putri (boru) nya dibujuk agar mau di peristri oleh Tuan Manorsa, tetapi Putri Raja Simbolon tidak mau menuruti permintaan orang tuanya, karena perbedaan umur mereka yang sangat berbeda (tidak sepadan).
Setelah Putri Raja itu di bujuk oleh istri raja Simbolon, akhirnya Putri Raja itu mau menjadi istri Tuan Manorsa dengan syarat : apa yang diminta oleh Putri Raja Simbolon supaya di turuti oleh orang tuanya.
Jika menjadi istri Tuan Manorsa, maka pernyataan saya “Bahwa suatu saat kelak Tuan Manorsalah yang menjadi Raja di tanah dan air yang ada di Huta Suah ini”
Karena Raja Simbolon sudah menginginkan Tuan Manorsa menjadi menantu (Hela) nya, maka dibuatlah suatu permufakatan perjanjian (parpadanan) bahwa pada suatu kelak tanah dan air yang ada di Huta Suah menjadi milik mereka (keturunan Tuah Manorsa).
Sejak itu jadilah Tuan Manorsa menjadi hela Raja Marga Simbolon dan kedua anaknya Raja Binuang dan Raja Hinonghop yang dibawahnya dari Saribu Dolok ke Huta Suah Simalungun yang disebut sekarang Harangan Gaol.

Selama hidupnya Raja Simbolon masih tetap sebagai Raja di Huta Suah. Dan setelah Raja Simbolon meninggal dunia Tuan Manorsalah yang menjadi Raja, sebagaimana yang sudah di janjikan dan namanya berubah menjadi Huta Suah.
Dalam perjalanan hidupnya, Tuan Manorsa cukup lama menjadi Raja di Huta Suah dan di ikuti oleh keturunannya, dan di kemudian hari nama Huta Suah diganti/ dibuat menjadi Huta Purba Saribu .

Di Purba Saribulah terletak makam Tuan Manorsa, yang sudah 2X di renovasi oleh keturunannya yakni Tahun 1963 dan Tahun 1974. Sedangkan di Simamora Nabolak Tapanuli Utara (tempat kelaharinnya) di bangunlah satu tugu peringatan yang disebut “Tugu Tuan Manorsa”.
Demikianlah Sejarah Kehidupan Ompu Tuan Manorsa dari tempat kelahiran Simamora Nabolak hingga ke Harang Gaol (Tanah Simalungun).

NB
1. Di Jakarta sudah ada berdiri Paguyuban Marga Purba dari Harang Gaol yang bernama “PURDASAGA” Singkatan dari “PURBA SARIBU BANDAR SARIBU TANGGA BATU”.
2. Karena begitu bagusnya kepemimpinan Tuan Manorsa di Harangan Gaol, oleh marga Simbolon Raja Binuang di ganti menjadi Raja Ginonggom, karena Raja Simbolon mangomgom dan manghophop kedua cucunya dan Raja Ginonggom menjadi SUNGGU RAJA. Sedangkan Raja Hinonghop namanya tetap
3. Raja Hinonghop adalah Ompung dari PURBA TONDANG dan PURBA TAMBUN SARIBU (yang bungsu)
4. Sejarah kehidupan Ompu Tuan Manorsa ini di terjemahkan dari buku Tarombo Pompara ni Tuan Manorsa yang dikumpulkan dan di susun oleh Guru A. Purba (Almarhum) – Ompu Parasian, pensiunan Kepala SMP Negeri Sidikalang Dairi.
5. Penterjemah mohon maaf jika dalam bahasa penyampaian, atau menterjemahkan dari bahasa daerah ke bahasa indonesia sangat kurang sempurna

Penterjemah :

St. T.P. Purba / Op. Duta
Ketua Punguan Pomparan Tuan Manorsa- Boru & Bere Sejabodetabek
Hingga 12Maret 2013
26/03/2019, 9:16 pm – gultom125.com: Mauliate, izin di web
26/03/2019, 9:17 pm – I Ato Purba: Ok 👍👍👍

Raker March 2018 MJ Bekasi

Tidak terasa harus mempersiapkan lagi anggaran buat tahun 2019, persiapan yang diperlukan dan pengalaman yang sebelumnya membuat anggaran tahun ini harus lebih terperinci, menghindari kejadian yang sama kemudian hari, dimana cash flow yang tidak mencukupi saat diperlukan.

 

Dari Mazmur 8:45 “Berbahagia orang-orang yang diam dirumahMu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau” maka tema tahun 2019 “GEREJAKU, RUMAHKU” dengan lagu tema dari PKJ 288 “inilah rumah kami” ayat 1, 3.

Dengan arahan program  :

  1. Menciptakan suasana peresekutuan yang penuh kehangatan.
  2. Menumbuhkan hospitalitas dan keugaharian sebagai bagian dari spritualias pelayanan.
  3. Revitalisasi tritunggal panggilan(bersekutu,melayani dan bersaksi) dan tri wawasan gereja (GKP, oikumene, kebangsaan)

Dengan program unggulan :

  1. Penataan kebaktian minggu, KRT dan katerial.
  2. Melanjutkan kunjungan khusus ke rumah jemaat
  3. Program pembinaan khusus untuk anak dan remaja
  4. Pelayanan multikultural dan multireligi.
  5. Pemilihan dan pembekalan komisi dan pegurus wilayah/pos kebaktian.
  6. Penataan ulang ruangan pada gedung SMKA dan ruko.
  7. Penambahan sarana kebaktian umum dan kategoial.
  8. Perbaikan flafon dan lantai gereja.
  9. Pentahbisan Vikaris
  10. Pengadaan tempapt kebaktian untuk Pos Kebaktian Tambun.

Untuk memudahkan dalam raker maka, diadakan persiapan sebulan sebelumnya (hunting setiap minggu) termasuk dari komisi-komisi. Tujuannya menambahkan slot pembinaan waktu raker, sehingga bisa memberikan motivasi dan merefresh kepada Majelis Jemaat dan PPJ.

Tugas sangat berat memang karena dalam anggaran kali ini, pagunya lebih kecil atau minimal sama dengan sebelumnya, karena mengingat pembelajaan harus menyesuaikan pertumbuhan jemaat. Sementara pembeajaan rutin meningkat dengan adanya inflasi.

Hal ini yang menggugah jemaat dengan tema “gerejaku, rumahku” harapannya bisa bertumbuh karena telah menjadi gereja sebagai rumah dan persebahan tentunya.

Jumat dan Sabtu 22-23 Mar 2019 diadakan raker di Wisma Bogor Indah Nrana Cipayung dengan rundown acara:

Hari pertama : Ibadah pembukaan, rapat pleno 1 dan 2 dan ditutup dengan doa malam.

Hari kedua : Penyegaran jasmani dengan senam, keputusan rapat, pembinaan dan ibadah penutup sebelum kembali ke Bekasi.

Pemimpin rapat adalah bapak Eddy dan sekrtaris ibu Lely serta bapak Lukas sebagai anggota.

Terima kasih kepada panitia raker yang telah berlelah bekerja membuat acara ini dan Majelis jemaat tentunya yang telah ambil bagian dalam persiapan materi tentunya.

Bidang 2 (pelayanan) dalam program menambahkan juga pelayanan kesehatan di Pos setiap 3 bulan dan baksos kesehatan di pos cigelam, tanda kasih kepada janda duda yang sedianya berupa uang, maka akan dialihkan dengan bingkisan dan kebaktian bersama saat ulang tahun gkp bekasi.

Pelayanan pemulasaraan, yang memutuhkan dengan kondisi sudah tidak ada pemulasaraan di jemat berduka.

Saya juga meminta maaf kepada bapak ibu, sdr majelis yang tidak bisa ikut serta, walau sudah di set beberapa bulan sebelumnya, karena tugas yang tidak bisa ditinggalkan.

 

Semoga pelayanan kita semua lebih baik kepada jemaat gkp bekasi dan Tuhan memberkati dalam keluarga, pekerjaan/tugas  dan kehidupan kita sehari-hari.

Demikian coretan saya ini, sebagai memory dikemudian hari.

Penjelasan Ta-Keb GKP

Penjelasan tata kebaktian minggu gereja kristen pasundan

sinode-gkp
AlamatJl. Raden Dewi Sartika No.119, Pungkur, Regol, Kota Bandung, Jawa Barat 40251
ProvinsiJawa Barat
Telepon(022) 5208723

1. Penjelasan umum
Gereja kristen pasundan (GKP) memahami bahwa kebaktian adalah suatu aktivitas orang percaya dalam suatu dan tempat tertentu yang mencerminkan persekutua, pelayanan dan kesaksian yang terjadi dalam perjupaan dengan Allah dan dengan sesama (Tata Gereja BAB VII PAsal 17 ayat 1). Kebaktian memerlukan penataan sedemikian rupa, sehingga aspek dialogis, yaitu Allah berfirman dan manusia menjawab itu tapak dan urutan-urutan acara dalam kebaktian itu, bisa dipertanggung jawabkan secara teologis, untuk maksud itulah GKP menyusun Tata Kebaktian.
Istilah tata menunjukkan pada serangkaian acara beserta urut-urutannya. Setiap mata acara mengandung makna teologis tertentu yang dikaitkan dengan pengalaman iman orang kristen akan penghayatan keselamatan dalam Yesus kristus. Tidak ada satu pun bagian Tata Kebaktian yang tidak bermakna, apalagi sia-sia. Untuk itu setiap acara atau bagian dalam Tata Kebaktian saling berkaitan satu dengan lainnya. Adanya makna teologis dalam setiap bagian mencerminkan penghormatan kita terhadap momen kebaktian yang sedang dilakukan.
Tata kebaktian yang hendak dijelaskan disini adalah Tata kebaktan hari minggu, sebagai perayaan iman semua orang percaya atau perayaan umum Jemaat. Kebaktian ini didasarkan oleh kesaksian para penulis Injil atas kebangkitan yesus Kristus (Mat 28:1; Mrk 16:9 ; Luk 24:1 ; Yoh;20). Demikian kesaksian ini diteruskan setelah kebangkitanNya setiap Minggu (Luk 24:35; Yoh 20:26-27; Kis 20L7-11; Wah 1:10) sebagai hari kebaktian.
Sabagai salah satu produk teologi, sebuah Tata kebaktian minggu turut meunjukkan identitas Gereja Tata Kebaktian GKP berakar pada Tata Kebaktian Minggu Gereja Calvinis di Belanda yang dibawa oleh Nederlandsche Zendingsvereeniging (NZV). Sehingga corak dan pola tata kebaktian yang dimiliki oleh GKP hingga saat ini merupakan corak dan pola tata kebaktian gereja calvinis.
GKP Saat ini memiliki 4 (empat) model Tata Kebaktian Minggu). Sejarah penyusunan Tata Kebaktian Minggu GKP bermula dari Sidang Sinode GKP tahun 1966, dimana muncul wacana tentang kebersamaan dalam penggunaan Tata Kebaktian Minggu. Sidang ini kemudian memutuskan untuk membentuk Komisi Liturgi dengan tugas menyusun Tata Kebaktian yang baku untuk dipergunakan oleh seluruh jemaat GKP. Setelah bekerja beberapa waktu dan melakukan uji coba, maka dalam Sidang Sinode XV tahun 1972 disahkan Kebaktian Minggu Model I. Selanjutnya, dalam sidang Sinode XVII tahun 1978 disahkan konsep Tata Kebaktian Minggu Model II. Selanjutnya dalam rapat Kerja Sinode tahun 2000 diputuskan penggunaan Tata Kebaktian Minggu Model III dan IV. Tata Kkebaktian Minggu Model II dan IV mengalami penyesuaian dengan memperhatikan kaidah-kaidah ilmu liturgi yang dirumuskan oleh Komisi Teologi GKP pada tahun 2013.

Empat model Tata Kebaktian Minggu yang dimiliki oleh GKP bersifat alternatif. Jemaat-jemaat dapat memilih dan penggunaannya tidak harus berurutan sesuai dengan jumlah minggunya. dengan disusunya empat model Tata Kebaktian Minggu tidak dimaksudkan pula untuk menghilangkan kreativitas bagi jemaat-jemaat untuk menyusun Tata Kebaktian yang kontekstual dengan memperhatikan kondisi dan pergumulan jemaat setempat serta menyeduaikan dengan kebutuhan.

II. Makna teologies Tata Kebaktian Minggu GKP.
Sebagaimana telah diutarakan sebelumya, Tata Kebaktian Model I-IV merupakan sebuah alternati dan tidak memiliki perbedaan yang mendasar, keempat model Tata Kebaktian Minggu tersebut memiliki makna teologis yang sama
Menurut Johannes Calvin, tujuan ibadah Kristen adalah penyatuan dengan Allah (Union with God) lewat bidaha, jemaat menjadi sehati sepikir dengan Allah. Jemaat menjadi sadar apakah kehendak Allah bagi mereka. Dalam sebuah kebaktian seseorang bisa mengalami perjumpaan dengan Tuhan dan perjumpaan itu mentransformasikan hidup mereka yang hadir. Dalam istilah umum, liturgi yang hidup adalah ibadah dimana didalamnya orang bisa merasakan Tuhan hadir dan menyapa mereka. Dalam Tata Kebaktian Minggu GKP, Jemaat diundang untuk mengalami perjumpaan dengan Allah sejak permulaan kebaktan yakni dengan volume dan Salam (atau peneguhan kebaktian dalam Tata Kebaktian Minggu Model III).
Tata Kebaktian Minggu GKP model I -IV berbentuk dialog. Hal ini sesuai dengan ajakan Reformator yang menjelaskan bahwa dalam ibadah, mula-mula Allah yang berinisiatif untuk berbicara kepada jemaat melalui Firman-Nya (revelation), lalu jemaat memberi respons dalam bentuk doa dan pujian. Dialog dalam Tata Kebaktian Minggu GKP berlangsung sebagai berikut.

Pertama, unsur Tata Kebaktian GKP menceritakan keberadaan diri manusia di hadapan Allah. Tatkala jemaat datang ke tempat ibadah, maka sebagai persekutuan ia datang untuk berbakti kepada Allah. Berhadapan dengan Allah membawa pada kesadaran akan keberadaaa diri sendiri sebagai manusia, yaitu bahwa manusia mempunyai beragam keterbatasan yang seringkali menyebabkan dirinya gagal dalam mengambil keputusan dan tidak bisa memperbaiki diri, dan sekaligus sebuah kesadaran bahwa ia membutuhkan pertolongan Allah untuk menembus dan membaharui diri. Dalam Tata Kebaktian Minggu GKP hal ini dicirikan dengan adanya pengakuan dosa dengan beragam formulasi dan rumusan.

Kedua, unsur-unsur Tata Kebaktian GKP menceritakan bahwa selalu Allah mengulurkan tangan, menebus, memberi kesempatan datang dan beribadah kepada Allah. Melalui bagian ini jemaat diingatkan bahwa jemaat merayakan kesempatan yang Allah berikan untuk hidup dalam penebusan. Dalam kebaktian hal ini dicirikan dengan adanya anugerah pengampunan.

Ketiga, berhadapan dengan kesempatan dan kepercayaan yang diberikan Allah maka jemaat .. dengan penuh ucapan syukur sekaligus kesediaan untuk senantiasa hidup dalam pembaharuan dan berdasarkan Firman Tuhan yang diberitakan melalui khotbah yang memanggil kesediaan untuk berpegang pada Allah, pengakuan iman, doa syafaat dan persembahan syukur. Inilah tanda jemaat hidup dalam pengampunan Allah Dialog dalam Tata Kebaktian diakhiri dengan meneria amanat pengutusan dan kesediaan Jemaat hidup dalam ketaatan dengav dinaungi oleh Berkat Tuhan.

III. Pelayanan kebaktian.
Kebaktian berlangsung dengan para pelayan yang menjalankan tugas sesuai fungsi dan tempatnya sesuai dengan hakikatnya kebaktian merupakan perjumpaan dengan Allah. Tata Kebaktian yang telah disusun harus dijalankan oleh para pelayan dengan disiplin dan persiapan yang baik. Dalam Tata kebaktian Minggu Model I – IV yang berperan sebagai pelayan kebaktian adalah Pelayan Firman (PF) dan Pelayan Kebaktian Pelayan Firman, baik pendeta atau non-pendeta, menerima mandat untuk memimpin kebaktian mewakili unsur dialogis dari Allah kepada umat. Oleh karena itu bagian yang dibawakan oleh Pemimpin kebaktian adalah Votum dan Salam, Berita Anugerah Pengampunan, Pemberitaan Firman. Pengutusan dan Berkat. Bagian yang lain dalam kebaktian dapat dibawakan oleh Pelayan kebaktian yang berperan mewakili umat untuk memberi respons atas Firman Tuhan.
Pelayan kebaktian yang juga harus dipersiapkan adalah pemusik, prokantor (pemimpin nyanyian), kantoria (paduan suara pemandu nyanyian) dan pelayan-pelayan lainnya sesuai dengan kebutuhan Jemaat setempat.

IV. Unsur-unsur Tata Kebaktian Minggu GKP.
Pola dalam Tata kebaktian minggu GKP model I – IV secara umum sama dengan pola yang dimiliki oleh Gereja Reformasi lainnya, yakni pola yang berakar pada ibadah jemaat mula-mula (Kis 2:42-47). Tata kebaktian minggu GKP terdiri dari 4 (empat) bagian yaitu
1. Berhimpun/menghadap Tuhan
2. Pemberitaan Firman
3. Respons umat/ucapan syukur
4. Diutus ke dalam dunia.

Bagian pertama : Berhimpun/Menghadap Tuhan

1. Persiapan
Kebaktian dimulai dengan langkah berhimpun, yang bertujuan untuk menyatukan hati jemaat. Prosesnya dimulai saat memasuki ruang kebaktian. Umat kemudian mengambil saat teduh yakni waktu untuk mempersiapkan hati dan pikiran untuk menghadap Tuhan dan berdialog dalam seluruh rangkaian kebaktian
Pada kesempatan ini, Majelis Jemaat melakukan doa di konsistori bersama dengan Pelayan Firman, memohon kepada Tuhan agar pelayanan kebaktian dapat dilaksanakan dengan baik, sementara setiap anggota jemaat berdoa secara pribadi diruangan kebaktian. Waktu persiapan ini bisa diiringi permainan musik, paduan suara, atau hanya dilakukan dengan hening.

2. Prosesi Alkitab dan pelayan Kebaktian

Jemaat berdiri sebagai simbol penghormatan dalam menyambut kehadiran Allah melalui FirmanNya. Nyanyian pembuka dinyanyikan untuk menyatukan hati semua yang hadir untuk datang ke hadapan Tuhan. Lalu sesuai dengan gereja reformasi, diadakan seremoni Penyerahan Alkitab (entry of the Bible) dari anggota majelis Jemaat yang bertugas sebagai pengatar pelayan kepada Pelayan Firman. Tujuannya untuk menunjukkan bahwa ibadah kita didasari oleh Firman Tuhan dan Pelayan Firman melaksanakan pelayanannya dengan mendapat mandat dari Majeleis Jemaat sebagai penanggung jawab seluruh kegiatan kebaktian dalam jemaat.

Votum dan Salam
Rumusan votum dan berdasarkan Maz 124:8 pada mulanya digunakan Calvin dan bertolak dari synode dordrecht (1574) mewajibkan penggunaan rumus tersebut yang kemudian diperluas lagi dengan Mat 12:19. Dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Votum (Latin=ikrar, janji) adalah kata-kata pembukaan yang diucapkan seorang Pelayan Firman dalam permulaan kebaktian yang menandaka bahwa pertemuan jemaat saat itu memiliki sifat yang khusus yaitu persekutuan ibadah yang dibangun atas dasar pertolongan Allah.
Salam diucapkan oleh Pelayan Firman kepada jemaat dan jemaat memberi jawaban atas salam itu kepada pelayan firman. Dengan tata kebaktian minggu model I berbunyi: Turunlah atas saudara sekalian, anugerah dan sejahtera dari Allah Bapa Kita dan Tuhan kita Yesus Kristus. Salam tersebut dijawab dengan uapan : Amin atau pelayan firman mengucapkan salam dengan mengangkat satu tangan lurus ke atas.

Nas atau ayat Pembimbing.
Nas pembimbing erat kaitannya dengan sifat dan maksud kebaktian pada suatu saat tertentu seperti hari raya gerejawi pentahbisan majelis jemaat, pelayanan sakramen dan lain sebagainya. Dalam hal ini GKP menyiapkan daftar pembacaan alkitab tahunan yang berisi permbacaan alkitab setiap minggu berikut nats/ayat pembimbing dan pokok pikiran dari pembacaan tersebut.

Doa Syukur
Doa syukur (tata kebaktian minggu model I) sesuai dengan maksudnya berisi ucapan syukur jemaat atas segala berkat, rahmat dan karunia Allah, yang telah dialami selama berhari-hari yang lewat pengucapan syukur itu menjadi sasaran utama dalam jemaat mengadakan kebaktian. Doa syafaat setiap tidak dimunculkan disini, baru pada bagian yang lain doa itu diucapkan.

Hukum Aah
Dalam Tata kebaktian Minggu model I & IV, hukum Allah ditempatkan sebelum pengakuan dosa dan pemberitaan anugerah pengampunan. dalam urutan itu, hukum Allah dimengerti sebagai cermin yang menyatakan kepada kita betapa besar perlanggaran-pelanggaran yang kita lakukan dalam hidup kita, baik terhadap allah maupun terhadap manusia. rumusan mengenai hukum Allah ini biasanya diambil dari Kel 20:1-17 dan Mat 22:37-40. pembacaan hukum Allah disambut jemaat dengan nyanyian.
Dalam tata kebaktian minggu model II, hukum Alah ditempatkan setelah berita anaugerah, dimaknai sebagai panggilan untuk memasuki hidup baru sebagai umat tebusan Allah yang hidup dalam kasih. Sedangkan dalam tata kebaktian minggu model III, sebagai respons dari anugerah pengampunan jemaat diundang untuk menyatakan syukur dan penyerahan diri ke dalam hidup baru.

Pengakuan Dosa.
Dalam tata kebaktian minggu model I, doa pengakuan dosa diucapkan oleh pelayan firan bersama-sama dengan jemaat. Mengingat bahwa makna pengakuan dosa sangat dalam artinya bagi kehidupan kita, maka pengucapan itu hendaknya tidak sekedar sesuatu yang di bibir, tapi sekaligus harus membekas dan menembus hati. Oleh karena itu pembacaannya dilakukan sedemikian rupa sehingga ungkapan pengakuan ini benar lahir dari seluruh diri kita.
Dalam tata kebaktian model II & III, doa pengakuan dosa diucapkan ole pelayan firman dan jemaat dalam sikap berdoa menyerahkan diri kepada tuhan dalam penyesalan.
Sebelum doa pengakuan dosa, baik yang diucapkan secara bersama-sama, maupun hanya diucapkan oleh pelayan firman diberikan kesempatan kepada setiap anggota jemaat agar secara pribadi, di dalam hati, mereka mengaku dosanya dihadapan Allah. Pengakuan dosa ini disambut jemaat dengn nyanyian yang isinya merupakan ungkapan penyesalan dan pengakuan akan dosanya.
Untuk tata kebaktian minggu model IV, pengakuan dosa disampaikan melalui doa yang dibaca secara berbalasan antara pemimpin dan jemaat.

1. Pemberitaan anugerah pengampunan
Dalam bagian ini pelayan firman menyampaikan berita kesukaan kepada setiap orang yang mau mengakui dosanya dan berlindung kepada Tuhan Yesus Kristus yaitu bahwa mereka mendapatkan pengampunan dosa.
Sebenarnya pengakuan dosa dan pemberitaan anugeraah pengampunan harus, diucapkan/didengar jemaat sambil bertelut, namun tata kebaktian GKP tidak menuntut hal itu. Yang penting adalah bahwa pada bagian-bagian tersebut khususnya pengakuan dosa. Jemaat mengucapkannya dengan rasa sesal yang sungguh, sembil menundukkan kepala.

2. Pembacaan mazmur
Dalam tata kebaktian minggu GKP, ada bagian pembacaan mazmur dilakukan secara berbalasan antara pemimpin dan jemaat lalu disambut dengan nyanyian KJ 48 Kemuliaan bagi Bapa. Pada tata kebaktian yang tidak terdapat pemacaan mazmur dapat ditambahkan dengan menempatkannya setelah berita anugerah atau petunjuk hidup baru sebagai bagian dari kesadaran umat untuk memuji kebesaran dan kemahakuasaan Allah serta memprolakmirkan perintah dan ketetapan-ketetapan Allah bagi umatNya

Bagian kedua: Pemberitaan Firman.

1. Doa untuk pembacaan Alkitab.
Doa ini lazim disebut Epiklese, adalah doa memohon kedatangan Roh Kudus agar Firman Allah yang akan diberitakan dapat disampaikan dengan baik dan benar oleh pelayan firman dan dapat didengarkan dengan baik oleh jemaat. Epiklese ini mempunyai arti penting, karena tanpa penerangan Roh Kudus yang membuka hati dan pikiran kita, maka Alkitab hanyalah hutuf mati dan tidak dapat mengerti Firman Tuhan (2Kor 3:14-16)

2. Pembacaan Alkitab
Pembacaan Alkitab merupakan unsur tetap dari kebaktian jemaat, sebab pembacaan Alkitab itu nanti akan mendapat penerapan praktis bagi hidup jemaat masa kini dalam bentuk khotbah. Dalam kehidupan GKP telah lama disusun suatu daftar pembacaan Alkitab tahunan, dengan memperhatikan beberapa unsur tata gereja peristiwa intern GKP. dan hari raya gerejawi.
Sesudah pembacaan Alkitab, maka jemaat menyambut dengan Haleluya yang berarti terpujilah Tuhan. Unsur ini berasal dari ibadah Yahudi yang dinyanyikan pada hari raya paskah. Pada minggu-miggu adven menggunakan Marantha yang berarti datanglah ya Tuhan, sedangkan minggu-minggu sengsara atau pra-paskah digunakan hosiana yang berarti selamatkanlah kami ya Tuhan.

3. Kotbah
Pembacaan Alkitab mempunyai hubungan yang erat dengan khotbah, hal ini telah berlangsung sejak lama. Artinya apa yang kita baca dari Alkitab, pokok itu juga yang akan kita kotbahkan. Pembacaan Alkitab bukan sesuatu yang beridiri sendiri lepas dari kotbah. Oleh karena kotbah merupakan pemberitaan Firman Allah dalam situasi kongkrit warga jemaat, maka kotbah memberlukan persiapan yang sungguh-sunggh. Sebagaimana sebagai pengajaran iman kepada umat menjadi segala terpenting dalam pemberitaan Firman. Isi kotbah mutlak bersifat edukatid, bukan uraian dogmatis belaka.

Bagian ketiga: Respons umat/ Ucapan Syukur.

1. Pengakuan Iman
Respons bersama dalam bentuk pengakuan iman (Affirmation of Faith). Pengakuan iman berisi rangkuman seluruh isi Injil. ketika megucapkannya, jemaat menegaskan kembali bahwa mereka yakin (Aku percaya) akan Firman Tuhan yang telah diberitakan. pengakuan Iman juga mempersatukan jemaat sebagai bagian dari gereja segala abad dan tempat.

2. Pengucapan syukur.
Unsur ini sebenarnya bagian dari pelayanan meka sebagaimana dilakukan oleh jemaat dan diteruskan ole Calvin dalam setiap kebaktian minggu. Di jemaat mula-mula orang kristen membawa roti dan air anggur sebagai persembahan, yaitu ditaruh di dekat pintu masuk. Ketika ibadah berlangsung, para diaken menyisihkan sebagian dari persembahan itu untuk dipakai pada perjamuan kudus. Setelah pemberitaan Firman selesai, roti dan air anggur di bawa masuk menuju meja altar dan perjamuan kudus pun dimulai.

Roti dan anggur adalah makanan dan minuman sehari-hari masyarakat Timur Tengah. mempersebahkan makanan dan minuman ke meja altar merupakan lambang persembahan hidup jemaat untuk melayan Kristus (Rom 12:1) Melaluinya jemaat mengakui: Dari padaMulah segala-galanya dan dari tanganMu sendirilah persembahan yang kami berikan kepadaMu (1Taw 29:14).
Selain roti dan air anggur, jemaat mula-mula juga mengumpulkan persembahan uang untuk orang miskin sesudah kebaktian selesai (di kotak persembahan)/ Uang itu, berserta roti dan air anggur yang tidak dipakai dibagi-bagikan kepada orang miskin.
Dalam praktek liturgi beberapa gereja reformasi termasuk GKP, pelayanan meja tersebut dalam kebaktian minggu hanya dialkukan persembahan syukur.

3. Warta Jemaat.
Warta jemaat berisi segala sesuatu tentang peristiwa dan kegiatan jemaat-gereja yang diketahui oleh anggota jemaat. Dalam tata kebaktian minggu model I & II, warta jemaat ditempatkan sebelum doa syafaat. penempatan itu mempunyai maksud agar pokok-pokok pentnig yang diungkapkan dalam warta jemaat itu, akan menjadi bagian dari pokok doa syafaat. Sedangkan dalam tata kebatian minggu model III & IV, warta jemaat ditempatkan diawal kebaktian dengan maksud mempersatukan dan mengarahkan hati jemaat untuk memasuki kebaktian dengan penghayatan akan panggilan untuk bersekutu, melayani dan bersaksi sesuai dengan agenda dan pergumulah jemaat yang diwartakan.

Di beberapa jemaat kita, warta jemaat diberikan kepada anggota jemaat dalam bentuk tulisan. Walaupn begitu, oleh karena warta jemaat merupakan salah satu unsur yang terantum dalam tata kebaktian, maka pokok-pokok penting warta jmaat itu harus dibacakan. Oleh karena warta jemaat berisi segala sesuatu tentang preistiwa dan kegiatan jemaat gereja yang perlu diketahui oleh warga jemaat, maka penyusunannya harus dilakukan dengan secermat mungkin serta dipersiapkan dengan baik, sebelum pelaksanaan kebaktian.

4. Doa syafaat.
Doa syafaat merupakan respon bersama sebagai imamat rajani di dunia ini (prayers of the people). Sebagai iman bagi dunia, jemaat perlu menaikkan doa untuk seluruh umat manusia di muka bumi. Lewat doa syafaat jemaat menjangkau dunia. Oleh sebab itu doa syafaat hendaknya tidak hanya bersifat lokal, melainkan seluas kasih Tuhan dan sama spesifikasinya seperti besar kasihNya pada orang yang terlemah di antara kita. Doa syafaat biasa ditutup dengan Doa Bapa Kami, yang merupakan induk dari segala doa.

Dalam tata kebaktian minggu GKP, doa syafaat ditempatkan setelah warta jemaat (tata kebaktian monggu model I & II) mengingatkan jemaat untukk mendukung dalam doa seluruh kehidupan berjemaat dan tugas pengutusan di tengah dunia sebagaimana tertuang dalam warta jemaat ditempatkan setelah pemberitaan Firman Tuhan (tata kebaktian minggu model III & IV) sebagai respons terhadap Firman Tuhan dan mendoakan komitmen jemaat untuk melaksanakannya dalam kehidupan pribadi, keluarga, persekutuan dan ditengahmasyarakat

Bagian keempat: Diutus ke dalam dunia.

Bagian terakhir dala tata kebaktian minggu GKP model I – IV adalah pengutusan dan unsur pengutusan bertujuan untuk mempersiapkan jemaat kembali berkiprah dalam dunia seharusnya. Setelah menerima Firman Tuhan jemaat diutus ke dalam dunia untuk menjadi pelaku Firman Tuhan.
Jemaat berdiri sebagai tanda kesiapan diri untuk menerima pengutusan dan menyanyikan nyanyian pengutusan yang berfungsi menegaskan kembali Firman Tuhan hari itu lewat nyanyian, sehingga mengekspresikan tekad jemaat untuk siap diutus ke dalam dunia, Agar sanggup melakukan tugas pengutusannyam jemaat membutuhkan berkat Tuhan. itulah sebabnya pengutusan disusul dengan mengucapkan berkat (blessing/bendiction), yang biasanya diambil dari Ul 6:24-26 atau Rom 15:13
Berkat disambut degan aklamasi Amin atau Haleluya! Amin (atau Hosianna/Maranatha! sesuai tahun liturgi)/ pada akhir ibadah, diadakan penyerahan kembali Alkitab yang menandai kebaktian telah dijalankan berlandaskan Firman Tuhan.

V. Simbol-simboldalam liturgi.

A. Lilin
Dalam liturgi terang merupakan makna istimewa, yaitu Kristus Yesus bersabda , Akulah terang dunia, barangsiapa mengikuti Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup (Yoh 8:12) dan Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepadaKu jangan tinggal didalam kegelapan (Yoh 12:46). Prolog Injil Yohannes menghubungkan Kristus dan hidup sejati dengan gambaran akan terang. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia dan terang yang sesungguhnya yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia (Yoh 1:4,9). Dengan dasar ini, kita dapat memahami penggunaan lilin yang menyala.
Lilin dinyalakan dalam setiap kebaktian, sebagai sebagai simbol Kristus yang hadir dalam persekutuan kecuali pada jumat agung dan sabtu sunyi sebab pada masa itulah Kristus wafat dan tubuhNya kemudian dikuburkan. Dalam siklus liturgi, simbol terang paling kuat terjadi pada paskah, dimana lilin Kristus diarak memasuki ruang kebaktian. Kegelapan karena kematian Kristus digantikan dengan terang kebangkitan. Selain lilin simbol Kristus (satu lilin putih) adapula simbol lilin minggu sengsara atau prapaskah dan lilin adven. Ketujuh lilin dalam minggu sengsara disebut menorah dalam tradisi Yahudi sering diidentiikasi dengan ketujuh anugerah Roh (Yes 11:2; bdk Paulus). Lilin minggu sengsara membawa kita pada pengenagan akan pnderitaan dan pengorbanan Kristus, dan umat diajak untuk beroa dan berseru hosiana yang berarti selamatkan kami ya Tuhan. Sementara itu, keempat lilin dalam krans adven adalah simbol pengharapan yang menantikan kelahiran terang dunia (dalam minggu pertama adven satu lilin dinyalakan, dalam minggu kedua dua dst).

B. Warna Liturgi

1. Putih
Adalah lambang dari warna terang, cahaya lilin, warna bagi Kristus yang dimaksud warna yang melambangkan kekudusan dan kebersihan. Oleh sebab itu warna ini dalam masa raya yang berkenaan dengan kristus misalnya Natal, Paskah, Kenaikan Tuhan Yesus dan masa raya kesukaan misalnya dalam pelayanan Baptisan, perjamuan Kudus digunakan juga dari masa Natal sampai minggu sebelum Epifania dan hari Raya paskah sebelum minggu pentakosta.

2. Ungu (lebih tepatnya violet)
Adalah warna tergelap dalam warna gerejawi yang menunjukkan penyesalan dan pertobatan yang sungguh-sungguh. Digunakan pada masa 40 hari sebelum paskah (Minggu sengsara) dan masa-masa menjelang Natal (Minggu adventus).

3. Merah
Adalah warna api, lambang Roh Kudus yang penuh kekuatan. maka digunakan pada perayaan pentakosta Wrna merah juga melambangkan warna darah, kesetiaan sampai mati, iman yang berapi-api sehingga digunakan dalam peringatan reformasi, peresmian gereja, pentahbisan pendeta peneguhan majelis jemaat, PPJ, komisi dan lainnya juga pada peringatan hari pekabaran injil dan hari-hari raya ekumunis.

4. Hijau
Adalah warna komplemen dari merah. melambangkan penyembuhan, ketenangan dan pertumbuhan iman. merupakan warna pengharapan. Hijau memberitakan kemurahan hati, keselamatan dari Allah yang menyembuhkan dan memperbaharui. Digunakan sepanjang masa yang disebut minggu biasa yakni pada minggu-minggu trinitatis dan tentang waktu sesudah epifania sampai sebelum minggu sengsara.

5. Hitam
Adalah warna liturgis yang paling lama dan dimaknai sebagai lambang kedukaan, kesunyian dan kehampaan saat Kristus turun dalam kerajaan maut. Warna ini dipergunakan pada peraayaan jumat Agung dan dalam pealyanan kedukaan (misalnya pelayanan pemakaman jenazah).

BUKU ACUAN
Badan Pekerja Sinode GP, Himpunan tata kebaktian, Bandung BP Sinode GKP 1982
Badan Binalitbang GKP, profil GKP dalam perspektip kemandirian Teologi, Daya, dan Dana, Bandung MP Sinode GKP 2007
Huck, Gabe, Liturgi yang anggun dan Menawan Pedoman menyiapkan dan melaksanakan liturgi Yogjakarta Penerbit Kanisius 2001
Pandpo A.A. Kontekstualisasi Musik Gereja dalam Sularso Sopater (ed), Apostole: Pengutusan STh Yogyakarta 1987
Rachman, Rasid Hari Raya Liturgi jakarta BPK Gunung Mulya 2003
Rachman, Rasid Pengantar Sejarah Liturgi Tangerang : Bintang Fajar 1999

Disalin dari kumpulan tata kebaktian GKP Cirebon.

gkp-bekasi
AlamatJl. Ir. H. Juanda No.166B, Margahayu, Bekasi Tim., Kota Bks, Jawa Barat 17114
ProvinsiJawa Barat
Telepon(021) 8814961

Terima kasih Gultom 2019

 

Pembekalan team bid-2 2019 di Puncak

Akhirnya setelah sempat diundur dari Nov 2018 mengadakan pembinaan dan pembuatan program dari bidang 2 karena lain hal yang membuat ini terjadi, terlaksana juga Sabtu 19 Jan 2019 di Puncak Villa Pelangi.
Terima kasih kepada team yang telah ikut bagian dalam rencana ini sehingga bisa terlaksana, tentu karena keinginan dari semua team untuk melayani jemaatNya di GKP Bekasi.

img-20190120-wa0311
Semoga semua pelayanan kita yang telah kita lakukan dengan tulus dan iklas berkenan di hadapan Tuhan.
Setelah  terdata semua yang akan ikut serta, maka dipersiapkan hal-hal yang perlu seperti akomodasi dan penginapan. Kami sangat berterima kasih kepada Bapak Siagian dan Ibu Ida yang memberikan tempat acara ini, juga kepada team yang rela membawa mobil dan memberi tumpangan pada peserta lain, tentu tak lupa kepada pak Vikaris Duta yang telah mendrive dan memotivasi memberikan pembekalan apa, dimana, bagaimana sebagai seorang pelayan di hadapan Tuhan yang telah memanggil kita.
Dengan bekal pengalaman sebelumnya, maka kita berangkat bersama dari Gereja GKP Bekasi pukul 7.30 pagi hari Sabtu 19 Jan 2019, sampai di Villa Pelangi milik pak Siagian pukul 11.00 siang setelah berdoa bersama sebelum berangkat.

diak-2019 (2)
Mulai pukul 12.30 setelah makan siang kita mulai rapat koordinasi dalam persiapan bulan diakonia Feb 2019 dan membahas program 2019 bidang 2 (Keesaan dan kesaksian).

diak-2019 (12)

Tidak terasa sampai jam 5 sore juga belum selesai, dan peserta begitu antusias mengikuti dan ikut rembuk, karena tugas bidang 2 yang begitu berat untuk bisa mencapai penerimaan harus sama dengan pengeluaran belanja.
Sementara belanja tidak bisa dikurangi, karena berhubungan dengan kesejahteraan, yang sehrusnya malah harus dinaikkan.
Misalnya dukungan jemaat yang sakit dan kedukaan, tanda kasih, bantuan pandidikan tentu ini alangkah lebih baik seharusnya di naikkan, tetapi dengan keadaan penerimaan (khususnya dari jemaat) sudah sangat terbatas kecuali kalau diikuti dengan kenaikan partisipasi dari jemaat.

Setelah selesai rehat dan makan malam, kembali dilanjut dengan pembinaan yang dipimpin oleh bapak Vikaris Duta Brahmana Egne sampai dengan pukul 9 malam.
Dan kemudian kita melanjut membahas program kerja sampai selesai.

img-20190120-wa0039
Karena kelelahan, hampir semua waktu terpakai dengan kegiatan maka setelah selesai hari itu semua peserta sudah harus bisa beristirahat/tidur,

diak-2019 (8)besoknya harus bangun kembali pukul 6.00 untuk senam, pembinaan dan kebaktian sebelum kembali ke Bekasi pukul 2.00 siang bersaman dengan waktu buka turun jalan puncak.

img-20190120-wa0312
Dengan waktu yang singkat persiapan dari team diakonia khususnya yang perlu diapersiapkan, karena seminggu kemudian sudah bulan February akan melakukan kegiatan.

Sekali lagi terima kasih dan mohon maaf kepada team yang telah berlelah dan mendapatkan waktu yang singkat buat persiapan bulan diakonia.
Adapun rencana untuk pelaksanaan bulan Diakonia ini adalah :
1. Minggu Pertama :
Pemberian bantuan pendidikan dan Dana sosial
2. Minggu kedua :
– Kebaktian syukur,
– mengisi pujian dalam 3x kebaktian,
– pelayanan dalam kebaktian dan
– Hari Sabtu pembagian bingkisan kepada Jemaat dan gereja sekitar.
3. Minggu ketiga :
– Donor Darah bekerja sama dengan PMI Cibitung dibanta oleh team kesehatan.
4. Minggu keempat:
– Aksi sosial pemeriksaan kesehatan gratis dengan team kesehatan.
5. Selama bulan February akan mengadakan :
– Bazar dan
– Kunjungan Safari ke tiap wilayah dengan memberikan bingkisan.

Tentu dengan Tema
“Setiakah diriku pada panggianMu”dan Sub-tema
“Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan” (Roma 12:11). Demikian coretan saya, semoga bermanfaat.

 

Pada pembekalan sesi 1 pak vikaris menyampaikan pembekalan berikut:

Sesuai dengan tema dari bulan diakonia, maka pak Vikaris menyampaikan pembekalan kepada team dengan pertanyaan apa yang membuat kita mau terlibat dalam pelayanan diakonia?
setelah mendapat beberapa tanggapan maka mulai masuk kepada materi yaitu apa itu melayani.
Melayani (Mark 10:44) adalah melakukan sesuatu yang mendatangkan perubahan positif pada orang lain yang dilayani.
Mengikuti prinsip Yesus pada Mark 10:45
– Melayani, bukan dilayani
a. Melayani orang berdosa, bukan orang benar
b. Semua orang yang datang kepadaNya, tidak ditolak
– Melayani sebagai hamba
Sebagai dasar pelayanan dari Yesus adalah:
1. Memperkenalkan kasih Allah
2. Digerakkan oleh belas kasihan (compassion)
Sehingga ada pertumbuhan (Efesus 4:11-16) dengan:
1. diperlengkapi bagi pekerjaa pelayanan bagi pembangunan tubuh Kristus (ay12)
2. Bertumbuh dalam segala hal ke arah Kristus (ay 15)
3. Tubuh Kristus tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya.(ay 16)
Kemudian beliau bertanya apakah melayani pilihan atau..?
disampaikan bahwa melayani adalah:
1. Panggilan: Lukas 4:18-19 – I Pet.2:9
2. Hak istimewa:Yoh. 15:15 & 16.
3. Kemurahan Allah:2 Kor 4 :1
Sebagai dasar utama pelayanan adalah
1. Saya melayani karena sudah dilayani oleh Tuhan Yesus sendiri
2. Saya melayani agar orang lain merasakan kasih Tuhan dan memuliakan namaNya
Motivasi spritual melayani adalah
1. Cinta Tuhan
2. Bersyukur
3. ‘Berhutang’
4. hidup=berbuah
Pelayanan diawali dengan:
1. Mengenali kebutuhan yang ada &
2. Memenuhi kebutuhan
Dengan dasar diatas maka kebutuhan jemaat
1. Diperhatikan (Ibrani 10:24)
2. Merasakan Kehadiran & Lawatan TUHAN (Yakobus 5:13-15)
3. Komunikasi Kasih (Persekutuan) (Ibrani 10:24

Sehingga akan menjawab kebutuhan Jemaat seperti:
1. Pindah/attestasi masuk
2. Kelahiran
3. Krisis keluarga/pekerjaan
4. Kedukaan
5. Pindah rumah/Wilayah
6. Baru menjadi pengikut Kristus
7. Undur, lama tidak datang
8. Sakit: biasa, kronis/menahun
9. Usia lanjut, hidup sendiri
10. Personalia komisi/MJ

Kemudian apa sih kendala untuk melayani yang biasa dihadapi?
1. Saya takut
2. Saya ngga bisa
3. Saya belum pengalaman
4. Saya tidak kenal ……………….
Dan ini akan meghasilkan perberbedaan karunia yang akan berbeda pergumulan dan warna

kendala-kendala hal-hal ditas harus kita singkirkan agar kita bisa melayani seperti sudah dilayani oleh Tuhan Yesus agara orang lain merakan kasih Tuhan dan memulaiakanNya.

 

Pada sesi kedua hari minggu20 jan 2019 sebelum kebaktian disampaikan dengan tem Diakonia yang menghadirkan perjumpan dengen Kristus

Mark 2:1-12 Iman yang berdampak padaMemiliki Hati Yang 1. Berbelas Kasih
2. Mengupayakan Perjumpaan Dengan Yesus Kristus
3. Ada Iman Nyata untuk Berkarya

Apakah komisi Diakonia?
Yaitu
Salah satu tugas gereja adalah penggembalaan dan pemeliharaan persekutuan jemaat.
1 Kor 12:12-26
1 Pet 5:1-4
1 Pet 2: 9-10
1 Tes 5:11

Tujuan Pelawatan adalah Menyatakan kasih dan kepedulian Kristus agar domba-domba terpelihara, terperhatikan, dikuatkan & dihibur.
Dengan memiliki hati kristus maka
1. Tergeraklah hatinya oleh belas kasihan … (compassion)
2. Gembala yang baik mencari yang hilang (Luk 15:1-7)
3. Menjadi sahabat bagi yang tersisih (Yoh 4)
Karakter pelawatan:
Sabar, Inistiaf, Penguasaan diri, bijaksana, tanggung jawab, setia dan peduli.

karakter pelawat
3 Tahap dalam pelawatan
1. PERSIAPAN: a. Tentukanlah Pelawat & yang dilawat
b. Data keluarga
c. Topik pembicaraan
2. PELAKSANAAN

3. PENCATATAN DAN EVALUASI: Data disimpan dan perlu follow up

 

pelawata memiliki

persiapan pelawatan

img-20190119-wa0036img-20190121-wa0007img-20190120-wa0349img-20190120-wa0339img-20190120-wa0326img-20190120-wa0325img-20190120-wa0321img-20190120-wa0100img-20190120-wa0093img-20190120-wa0078img-20190120-wa0076img-20190120-wa0073

img-20190119-wa0084img-20190119-wa0091img-20190119-wa0101img-20190119-wa0103img-20190119-wa0106img-20190119-wa0112img-20190119-wa0115img-20190119-wa0122img-20190120-wa0109img-20190120-wa0112img-20190120-wa0241img-20190120-wa0244

Sejarah Ringkas GKP Cirebon

Pendahuluan.
Pada tanggal 27 Sep 2013 ini GKP Cirebon memasuki usia 149 tahun.

GKP+CirebonPerjalanan panjang kehadiran GKP Cirebon telah memberi warna pada perjalanan kota Cirebon. Dr. Hendrik Kraemer dalam tulisannya menyatakan bahwa dari laporan-laporan zendeling dan para guru kita mendapatkan kesan berikut mengenai keadaan di resor Cirebon. Jemaat kota Cirebon berjumlah 244 orang, Diantaranya orang Tionghoa merupakan minoritas. Jemaat itu jemaat campuran, yang terdiri dari orang Tingkhoa, Jawa, Sunda, Ambon, Menado, Matak dan Sangir.Kendati orang Tionghoa merupakan minoritas, berhadapan dengan kelompok2 bangsa lain merupakan kesatuan yang padat, yang juga lebih giat dan bergairah (Kraemer laporan jawa barat, hal..).
Catatan Kraemer ini dibuat pada tahun 1930. Lebih lanjut Kraemer mencatat : Dalam bulan oktober 1930 penduduk Pribumi provinsi West-jawa berjumlah 11.039.350 jiwa. Dari jumlah itu 8.5% saja yang tinggal dikota, selebihnya, penghuni pedusunan. Mayoritas 8.5% saja yang tinggal di Batavia, Bandung dan di Kotapraja, Pada tahun yang sama, jumlah orang Tionghoa di Jawa Barat 259.718 (dijawa tenghah 130.360, dijawa timur 154.487). Di jawa barat mereka merupakan 2.28% seluruh penduduk. Dari mereka 52% tinggal di Kotapraja. Dipedusunan tinggal 123.978 orang Tionghoa diantaranya 60% di tanah partikulir (yang bekas atau masih ada)orang Tinghoa paling menonjol di Batavia, Cirebon. Dikabupaten Sumedang, Garut, Tasikmalaya dan Ciamis.
Orang asing lainnya, terutama orang Arab berjumlah 17.300 jadi 0.15% penduduk. Dari mereka 70% tinggal di Kotapraja. di Cirebon, orang Arab merupakan 2,9% penduduk.
Di jawa barat jumlah wanita melebihi jumlah pria. Menurut Minde Welvaartsonderzoek-verslag (dimulai 1905) poligami sering terjadi dareah serang, priangan dan Cirebon.
Di tengah lautan penduduk itu ada sejumlah orang Kristen Pribumi, yang diasuh oleh NZV, Akhir 1932 mereka …, sedangkan orang kristen Tionghoa berjumlah 1.405, seluruhnya 5.497 orang kristen.
Catatan Kraemer ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sejarah GKP Cirebon. hal ini mengingat potret yang disampaikan Kraemer di Belanda.
Kemudian mendorong kemandirian GKP dan GKP Cirebon salah satu pendukung sidang pertama Rad Ageng pada tahun 1934.
Dalam tulisan singkat ini disampaikan secara umum mengenai kehadiran GKP di Cirebon sejak berdirinya sampai saat ini.

Masa tahun 1864 – 1934.
Kehadiran GKP Cirebon tidak bisa dipisahkan dari semangat Penginjilan yang dilakukan oleh Nederladsche Zendifsvereeninging (NZV). Lembaga Zending NZV didirikan di Rotterdam tanggal 2 Dec 1858, dan atas saran sebuah lembaga pekabaran Injil di Jakarta (Genootshap voor in-en uitwendige Zending GIUZ), NZV bekerja di Jawa Barat di kalangan orang-orang Sunda. Pada tahun 1863 tiga orang utusan pertama NZV yiatu Cabrs, D.J. van der Kinden dan G.J. Grashuis , tiba di Tanung priuk dan melanjutkan perjalanan ke Bandung. Tetapi karena kesulitan mendapatkan izin kerja D.J. van der Linden pindah ke Cirebon, kemudian ke Indramayu.
D.J van der Linden memulai pelayanan di Cirebon Nov 1863 walaupun pada saat itu belum mendapatkan ijin dari keresidenan Cirebon, tetapi hal ini tidak menghambat pelayanan yang dilakukan. Dan dalam waktu satu tahun pelayanan setelah beliau tiba di Cirebon dibaptislah seorang ibu keturunan Tionghoa yang bernama ibu Salaber. Mengingat saat itu ijin untuk beliau belum didaptkan maka pelaksanaan baptisan ini dilaksanan oleh Pdt. JGW Krol, seorang pdt Indeshe Kerk. Dan dalam kurun waktu setahun pelayanannya sudah tercatat 5 orang yang dilayani, yaitu ibu Salaber dan 1 keluarga yang berasal dari Tegal.
Pada tahun 863, NZV mengutus seorang tenaga penginjil yang akan melayani di Cirebon, beliau bernama Atze Dijkstra (1840-1893). Beliau berangkat dari Nederland pada 21 Oct 1863, dan tiba ti Batavia pada 22 jan 1864, kemudian beliau melanjutka perjalanan ke Cirebon beliau bersahabat dnengan seorang perwira keturunan Tionghoa yang bernama Letnan Ong Paw. letnan Ong Paw bahkan memberikan tanah dan rumahnya untuk menjadi tempat beribadah emaat yang menjadi pelayanan A.Dijkstra. Dari pelayanan Dijkstra maka pada tanggal 27 Sep 2868 dilaksanakan sakramen baptisan kudus atas bapak Sarban dan ibu Widjem. Mereka adalah orang pribumi yang berasl dari Tegal. Sementara itu baru tanggal 5 Des 1868 Letnan Ong paw dan istri juga di pabtis. Hubungan baik dengan Letnan Ong paw ini memperkuat pelayanannya yang dilaksanakan oleh Dijkstra. Dalam pelayannya Dijkstra kemudian dibantu oleh Tarub, seorang pribumi yang dikirim secara khusus oleh Anthing. Beliau melayani sampai meninggal dunia pada 7 oct 1893.
Para Zendeling silih berganti melayani di Cirebon, pelayanan dilaksanakan kepada orang-orang Jawa dan kemudian berkembang kepada orang-orang yang berasal dari Ambon, Minahasa dan Batak. Bahasa yang dipergunakan dalam pelayanan adalah bahasa melayu. Dari catatan tahun 1885 diketahui bahwa jumlah jemaat berjumlah 39 orang. mereka terdiri atas 10 orang Jawa barat, 13 orang Ketrurunan China, dan 16 orang keturunan Indo, serta Ambon. Secara presentase, jumlah anggota jemaat dari suku Sunda lebih sedikit daripada etnis lain dari Jawa barat.

Masa tahun 1934 – sekarang.
Pelayanan para zendeling terus mberkembang juga melalui pelayanan pendidika dan kesehatan. Ruang pelayanan mereka bukan hanya di Cirebon tetapi juga turut membantu pelayanan kesehatan baik itu di beberapa zendeling sempat mengambil bagian sebagai pengurus lebaga kesehatan yang ada.
Dan dalam semangat kebersamaan pula gereja Cirebon hadir dalam sidang Rad Ageng yang sangat bersejarah itu dan turut mengambil bagian dalam keputusan bergabung mengadi bagian dari Gereja Kristen Pasundan. Hal ini juga tidak lepas dari dorongan yang ditujukan oleh Dr. Hendrik Kraemer kepada pengurus besat NZV untuk memberi pengasuhan atas jemaat-jemaat di pasundan menjadi Gereja yang membuat Ia melihat bahwa jemaa-jemaat pasundan dan para pemimpin pribum punya potensi yang dapat dikembangkan kalau mereka sudah diserahkan tanggung jawab yangpenuh.
Masa ini memberikan upaya semua pihak (para zendeling, pmemimpin pribumi dan warga jemaat) untuk menyesuaikan diri degan situasi yang baru. Hal ini menyangkut semua segi kehidupan dan jalinan0jalinan hubungan dalam gereja serta segala kegiataannya. perubahan stats dari jemaat-jemaat zending menjadi suatu gereja yang mandiri, menuntut perubahan di segala bidang kehidupapn gereja misalnya hubngan antara para zendelng dengan petugas pribumi, hubungan antara warga jemaat dengan para pemimpin gereja yaang semangat kemandirian jugalah maka pada tanggal 18 agus 1935, ditahbiskan seorang pendeta pribumi pertama di GKP Cirebon, yaitu Pdt Yoseph athe.
Pada saat itu juga Pdt Yeseph Atje digantikan oleh Pdt. Enos Kaarubi. Dalam kepemimpinan Pdt. Enos Kaarubilah terjadi peristiwa yang bersejarah bagi GKP jemaat Cirebon, Pada tahun 1942 gedung gereja di jalan Pulasaren di bom tentara jepang, mengingat kehancuran gedung Gereja di pulaseran maka jemaat kemudian menggunakan gedung gereja milik Indesche Kerk di jalan Yos Sudarso. Gedung gereja diperkirakan berdiri pada tahun 1788 dan diperuntukka bagi pejabat negara dan juga orang belanda atau penduduk yang mempergunakan bahasa Belanda (menurut data dari wikipeda, gedung gereja ini merupakan gedung gereja tertua nomor tiga di Indonesia, sementara untuk Cirebon merupakan salah satu gedung tertua.

1dc71-gkp2bcirebon1

mengingat hal ini tentu saja dapat dipahami pemerintah menjadikannya sebagai cagar budaya). Gedung gereja ini ditinggalkan oleh orang-orang belanda yang terancam pendudukan Jepang. Catatan yang disampaikan oleh Pdt. J.J. Aijal yang mewakili Indesche erk untuk meninjau gedung-dgedung gereja milik Bethel diberi ijin untuk memakai gedung gereja ini daripada dipakai oleh pihak-pihak yang tidak beranggung jawab.
Dan atas kasih Tuhan serta dalam semangat Oikumnis maka pada tanggal 22 Oct 1981, gedung gereja dihibahkan oleh BP Sinode GPIB yang diwakili oleh Pdt. AJ Sahetapy Engel sebagai ketua Umum dan Pdt. Johny A Assa sebagai sekretaris Umum, kepada BP Sinode GKP yang diwakili oleh Pdt. Arifin Dani selaku Ketua Umum dan pdt. Weinata Sairin selaku Sekretaris Umum. Sementara saksi-saksi dari Majelis Jemaat GKP Cirebon yaitu Bpk. Johny Sooriton dan Ibu Shiely Ban den Bosh.
Sejak awal berdirinya pelayanan pada zendelinng di kota Cirebon mereka melakukan juga pelayanan di desa-desa sekitar Cirebon, Kuningan dan Indramayu pelayanan ini terus dikembangkan dengan baik, beberapa wilayah pelayanan itu adalah: Ciguru, Tangkoo, Cibuut, panguragan Lor, da Kancana Girang. sAmpai saat ini ada ag sudah menjadi J=jemaat mandiri ada jga sudah tidak dilayani lago oleh GKP. Para pendeta yang melayani diGKP Cirebon elaksanakan tugasnya dalam ketulusan hati dan semangat yang kuat. Wilayah pelayanan yang luas dengna medan yang cukup berat tidak menghambat jalannya pelayanan. Mengingat luas dan beratnya wilayah pelayahan tersebut dalam sejarah pelayanan di GKP Cirebon sejak lama memiliki konsep untuk pelayanan dilakukan lebih dari satu pendeta.
sejak masa para zendeling hadir guru injil maupun orang-orang yang memang secara khusus mendampingi mereka. dan konsep ini terus berlanjut dengan pelayanan yang bersama dilakukan Pdt. Kesa Yoenoes dengan Pdt. Arifin Dani. Ketika masa pelayanan Pdt. Chita R Baiin, pernah dihadirkan 2 orang vikaris. Begitu juga ketika masa pelayanan Pdt. Supriatno hadir Pdt. Risma Manalu dan kemudian dilanjutkan oleh Pdt. Yayan Sampai dengan hadirnya Pdt. Adama Antonius Sihite. Para pendeta yang melayani di GKP Cirebon bukan hanya para pendeta GKP, tetapi juga daru beberaa Geeja yang karena tinggal di Cirebon turut melayani di Jemaat ini. Para pendeta tersebut antara lain: Pdt. Anna Wokas Rondoh dan Pdt. Prapto. Dalam pelayanannya juga GKP Cirebon menjadi tempat pentahbisan Pdt. Tri Admadja sebagai pendeta GKP dalam pelayanan di TNI AD. Konsep pelayanan yang dimunculkan sejak masa para zendeling ini menunjukkan semua pelayanan yang dilakukan harus menyentuh seluruh bagian warga jemaat. Semangat tersebut terus berkembang dengan pelayanan kehidupan persekutuan yang saling berbagi. Salah satu sisi kebersamaan persekutuan yang dalam berbagi di GKP Cirebon adalah kegiatan makan bersama. Makan bersama dilaksanakan minimal satu bulan sekali setelah kebaktian minggu dengan sebutan Tea Morning. Tidak ada catatan khusus kapan dimulainya kegiatan ini, namun jemaat dengan sukacita memaknainya dalam semangat kasih persaudaraan. Dalam kegiatan tersebut semua orang dapat duduk bersama, tua muda, besar kecil, semua sama. Ini merupakan kebersamaan yang luhur. Berbagi bukan hanya menjadi bagian internal jemaat, namun jemaat juga berbagi dalam kebersamaan dengan Gereja dan sesama. Hal inilah yang membuat sejak zaman para zendeling warga GKP Cirebon mengambil bagian dalam memaknai Tri Tugas Gereja maupun apa yang kemudian disebut Tri Wawsan GKP. hal ini menunjukkan dengan keterlibatan di berbagai aktivitas klasikal, sinodal maupun oikumenis. Bahkan partisipasi jemaat juga ditunjukkan dalam hubungan dengan lembaga-lembaga sosial, maupun sosial keagamaan. Disadari kehidupan warga Jemaat di cirebon membutuhkan sikap yang terbuka terhadap berbagai situasi yang ada disekitarnya. Sikap ini telah ditunjukkan oleh Ny. Salaber yang dicatat memiliki keterbukaan pada masyarakat. Bahkan lahan yang dimikinya ditanam tanaman obat yang dipergunakan bagi masyarakat. Sikap terbuka dan murah hati inilah yang membuat Ny. Salaber dierima dengan baik ditengah masyarakat. Keterbukaan ini kemudian menjadi ciri dalam pelayanan GKP Cierbon. Walaupun anggota jemaat berasal dari berbagai suku namun sikap positif terus ditampakan ditengah masyarakat. Hal ini ditunjukkan melalui keterlibatan dalam kegiatan Oikumenis maupun berperan aktif alam membangun dialog antar umat beragama. Sikap ini bukan hanya menjadi agenda Majelis Jemaat saja tetapi melibatkan seluruh bagian warga jemaat.
Karenanya dalam kehidupan sehari-hari setiap bagian jemaat diingatkan untuk tetap terlibat dalam berbagai aktifitas masyrakat. melalui keterlibatan di tengah masyarakat tersebut diharapkan merupakan setitik sumbangsih GKP Cirebon bagi kota yang dicintai ini.

Catatan :
a. Penentuan tanggal ulang tahun jemaat ditentukan melalui Rapat Jemaaat tanggal 9 April 2013. Penentuan ini berdasarkan sumber-sumber yang telah ditelurusi dan Buku Registrasi jemaat yang diperkirakan dibuat pada tahun 1868.

b. Data para pelayanan di Cirebon.
1. Pada tanggal 16 Agust 1862 telah di utus tenaga penginjil ke Cirebon, yakni: Dirk Johannes van der Linden, tiba di Cirebon pada nov 1863. Beliau bekerja selama satu tahun. Dan pada masa pelayanannya dilaksanakan baptisan kudus pada ibu Salaber seorang keturunan china yang dipimpin oleh Pdt. J.G.W. Krol, tahun 1864.
2. Pada tahun 1863 NZV mengutus seorang tenaga penginjil yang aka melayani di Cirebon, beliau bernama Atze Dijkstra (1840-1893). Beliau berangkat dari Nederland pada 21 Oct 1863 dan tiba di Batavia pada 22 Jan 1864. Beliau melayani sampai meninggal dunia pada 7 Oct 1893.
3. Pada pelayanan A. Dijkstra dilaksakan sakramen baptisan kudus pada tanggal 27 Sep 1868 pada Sarban dan Widjem dan 5 Des 1868 pada Letnan Ong Pauw dan istri.
4. Dijkstra sejak Jul 1877 dibantu oleh Taroeb, seorang pribumi yang diutus Mr. Anthing untuk membantu pelaksanaan pekabaran Injil di Cirebon.
5. Pengganti A, Dijkstra adalah J.J.Muis 1896-1899
6. Otte van der Brug, melayani tahun 1900-1909
7. S. Coolsma mencatat bahwa pada tahun 1900, seorang perempuan asal Kuningan bernama Meneb, diangkat menjadi pembantu zendeling dengan mendapat gaji dari NZV.
8. Elizabert Cornelis Burgstede, melayani tahun 1935-1937.
9. Guru Injil Enos Djalimuoen, melayani di GKP Cirebon tahun 1836-1839.
10. Lulof Hendrik Put, melayani 19838-1940.
11. Pdt. Joseph Atje, dtahbiskan d GKP Cirebon 18 Agus 1935.
12. Pdt. Enos Kaarubi, melayani sejak 3 Nov 1941.
13. Pdt. Kesa Junus melayani sejak tahun 1943 di GKP Cirebon dan beberapa jemaat lainnya. Secara khusus melayani dan tinggal di Cirebon pada tanggal 1 Aug 1961 – 1 Jan 1975.
14. Pdt. Arifin Dani S.Th ditahbiska di GKP Cirebon pada 22 Feb 1968 dan melayani sampai 1971.
15. Pdt. Tri Atmadja SmPAK, ditahbiskan di GKP Cirebon pada 15 Oct 1976
16. Pdt Chita R Baiin S.Th, ditahbiskan pada 24 Mar 1983 dan melayani sampai 1992.
17. Pdt. Supriatno M.Th, melayani 1992-2002
18. Pdt. Rasima TE.F Manalu ditahbiskan di GKP Cirebon pada 1 Agus 2000 dan melayani sampai 2004
19. Pdt. Adama Antonius Sihite S.Si, melayani dari 24 Apr 2006 -2012
20. Pdt. Yayan Heryanto S.Si, sejak awal diproyeksikan utuk melayani di GKP Cigugur mengingat GKP Cigugur masih merupakan Bakal Jemaat, maka basis pelayanan beliau adalah GKP Cirebon.
21. Pdt. Edward Tureay, S.Th, melayani 05 Aug 2012 – 2017

gultom_PdtEdward
22. Pdt. Daryatno, tahun2017 sampai sekarang

 

Op. Sonar Gultom – pesta natal 2018 dan bona tahun baru 2019

 

Akhirnya setelah berjalan 18 tahun terbentuknya punguan Op. Sonar Gultom, maka pertama kali diadakan perayaan natal dan bona tahun 2019 pada hari minggu 6 jan 2019 di Bekasi Timur Jati Mulya Jl. Cendrawasih. Dengan semangat dan keinginan yang kuat dari Abang A. Boris Gultom, bisa berjalan persiapan dengan baik, tak luput ini adalah karena pengalaman beliau yang dilakukan di lain punguan/tempat.

img-20190106-wa0025
Setelah setelah persiaan, meunggu undangan

Walaupun dengan waktu yang terbatas hanya sebulan lebih persiapan acara ini, bisa dilaksanakan, bahkan hampir semua berjalan dengan baik. Ini adalah awal dari mulainya ada acara sehingga tahun 2020 kemudian akan diharapkan bisa lebih baik dalam persiapan dan acara berjalan.

img_20190106_141824
pembukaan/huhuasi

img-20190106-wa0044img-20190106-wa0051img-20190106-wa0037

Terima kasih kepada Abang serta akkang A.Boris Gultom serta semua yang mendukung dalam persiapan acara ini dan kepada ketua punguan Op.sonar Gultom A.Eva Gultom yang begitu setia dan sabar untuk mengayomi kami anggota punguan ini.

IMG_20190106_125958.jpg

img-20190106-wa0041
Liturgi pertama (penciptaan)

img_20190106_133153

Liturgi ketiga
img_20190106_141241
Liturgi keempat
img-20190106-wa0134
Liturgi kelima

tentu tak lupa terima kasih kepada donatur yang telah membagikan berkat Tuhan, dan kepada semua anggota punguan Op. Sonar yang telah meluangkan waktu hadir.

img_20190106_140600

img-20190106-wa0151

Selamat hari natal 2018 dan tahun baru 2019, semoga di tahun 2019 ini khususnya punguan Op. sonar Gultom bisa lebih baik dan dukungan anggota lebih solit sehingga bisa terlaksana yang dinginkan dalam kebersamaan seperti tema yang dibuat saat ini yaitu “Kebersamaan dan rukun akan menerima/saluran berkat (Maz 133:1)
Ini adalah harapan semua anggota punguan….

img-20190106-wa0158img-20190106-wa0159img-20190106-wa0160img-20190106-wa0156

Dan anggota khususnya Gultom keturunan Op. Sonar yang berada di Jakarta sekitarnya bisa ikut serta dalam punguan ini, harapannya.

Tuhan memberkati.

img-20190106-wa0162IMG-20190106-WA0161.jpg

Liburan natal 2018

 

Tidak terasa ternyata sudah mau berakhir tahun 2018. Sepertinya baru saja kemarin memasuki tahun 2018, kemudian libur panjang lebaran, sekarang sudah hari Natal. Karena sesuatu hal, tanpa rencana akhirnya pergi juga ke Cirebon.
Sebelumnya sudah ada rencana untuk menggunakan cuti panjang 3 hari tapi karena keadaan dan kondisi tidak mengizinkan (curcol deh), akhirnya di cicil itupun sampai ke tahun 2019.
Dengan bekal izin dalam pelayanan selama masa hari natal, maka berangkat lah hari sabtu malam, karena siangnya sudah ada appoitment untuk golf.

golf-22dec2018
Seperti biasa memang dalam ranah pembangunan yang gencar-gencarnya saat ini, sehingga terutama jalan toll japek jadi macet dan waktu tempuh lebih lama dari jakarta ke cikampek dibandingkan dari cikampek ke cirebon.
Tentu anak-anak juga tidak mau ketinggalan, kesempatan ini telah membuat rencana yang akan dilakukan, sesampainya di cirebon tentunya.
Besoknya minggu 23 Dec 2018 saya siap-siap untuk ikut dalam kebaktian di GKP “bethel” Cirebon dan sesudahnya hunting batik dipusatnya yaitu Batik Tusmi.
Memang lumayan rame karena sudah banyak di kenal orang, tentunya yang datang kesini, tidak sampai ke cirebon kalau tidak mampir disini… (heh heh begitu katanya)
Besoknya Senin 24 Dec 2018 hunting buat bermain air kebetuan baru buka dan alami tempatnya, namanya jembar water park,  juga menuju tempat ini sangat eunak, karena jalannya yang berlikaliku….dan mulai dari Majalengka arah ke kolam renang ini sudah mulai jalan menyempit, jadi tidak bisa injak gas seenaknya. Ternyata walau baru dibuka wahana ini, rupanya jam 10 an pagi samapi ditujuan sudah ramai pengunjung.

jembar water park
Tentu saya yang baru saja selesai operasi kuping mau ngga mau harus hati-hati dan memakai penutup kepala yang tidak tembus air sehingga kuping terbebas dari air.

Jimbar water park dec2018
tidak terasa karena banyak permainan wahana dan membuat kita betah dan waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang, karena pukul 5 sore harus sampai kembali di cirebon untuk melanjutkan kebaktian malam natal.

Dan besoknya sebelum 25 Dec 2015 sebelum kembali ke bekasi, maka kembai mengikuti kebaktian natal di tahun 2018.

Terima kasih Tuhan atas segalanya berkat yang melimpah bisa selamat mulai dari perjalanan berangkat dan pulang. Tidak ada halangan yang membuat terhambatnya perjalanan secara siginifikan.
Memang harus diakui sedikit melelahkan tapi karena tugas, besoknya Rabu 26 Dec 2018, kembali melakukan rutinitas yaitu masuk kerja seperti biasa.
Tapi ada hikmahnya, karena susana jalan hampir seperti libur panjang, kemungkinan banyak pekerja yang ambil cuti di sela-sela libur, sehingga perjalanan berangkat dan pulang kerja sangat nyaman tanpa ada hambatan macet yang significan.

Demikian coretan saya, semoga ada manfaatnya.